Saturday, May 2, 2020

Marx, Newton, Darwin


Dalam salah satu bukunya, filsuf Franz Magnis-Suseno menulis pendapat Friedrich Engels bahwa ada tiga orang yang mendasari pengetahuan manusia tentang alam raya dan dirinya sendiri: Karl Marx, Isaac Newton, dan Charles Darwin.

Marx
“Menurut Engels, seperti Newton menemukan hukum fisika yang mendasari segala gerak dan perkembangan di alam raya, dan seperti Darwin yang menemukan hukum perkembangan segala jenis organisme, Marx menemukan hukum yang terwujud dalam sejarah perkembangan umat manusia.” (Dari Mao ke Marcuse, 2013:18)
Nama Marx dibahas terakhir karena buku yang memuat sitasi itu, memang berisi kritik atas pemikiran Marx. Dalam bagian kata pengantar buku Pemikiran Karl Marx (1993) yang juga ditulis Franz Magnis-Suseno, ia mengakui “tanpa pemikiran Karl Marx, abad ke-20 akan berlangsung sangat berbeda”. Meski begitu, dalam buku yang sama, Romo Magnis menulis kalimat penutup yang merangkum seluruh uraian 270 halaman yang ia tulis:
“Jadi, meskipun banyak dari teori Karl Marx sekarang hanya menarik perhatian secara historis dan tidak lagi secara sistematis, cita-cita emansipasi dan kritik terhadap eksploitasi manusia oleh manusia tampak tetap aktual.” (Pemikiran Karl Marx, 1993: 270)
Irelevansi pemikiran Karl Marx, juga didukung dalam sebuah nukilan kalimat yang ditulis filsuf—yang disebut-sebut paling berpengaruh (atau populer?) di abad ke-21—Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus:
“Seandainya Marx hidup lagi hari ini, dia mungkin akan mendesak segelintir muridnya yang masih tersisa untuk mengurangi waktu untuk membaca Das Kapital dan mencurahkan waktu lebih banyak untuk mempelajari Internet dan gen manusia.” (Homo Deus, 2015: 315)
Pada kenyataannya ada juga yang menilai ide sosialisme yang—salah satunya—disuarakan Marx masih tetap penting. Sebuah anekdot berbunyi:
“Jika ketika muda kamu bukan marxis, maka kamu tidak punya hati. Tapi ketika dewasa kamu bukan seorang kapitalis, kamu tidak punya otak.”
Newton

Demikianlah ide dan pemikiran bergulat untuk mengakali atau menjelaskan realita. Pemikiran Marx bukan satu-satunya yang diperdebatkan. Hukum fisika Newton pun pada perjalanannya dalam dimensi waktu, mengalami aktualisasi. Gagasan Newton kini dikenal dengan konsep fisika klasik. Sementara fenomena fisika yang tidak bisa dijelaskan oleh buah pemikiran Newton, bisa dimengerti dengan konsep lain. Misalnya fisika kuantum.

Darwin

Begitu juga dengan teori evolusi yang ditulis Charles Darwin dalam bukunya On The Origin of Species. Saya belum pernah baca bukunya. Meski begitu, baru-baru ini saya nonton film dokumenter produksi HBO berjudul Questioning Darwin.

Film berdurasi hampir satu jam ini, menghadapkan ilmuwan dengan agamawan. Para pemuka gereja dan penganut kristiani yang diwawancara, percaya dengan konsep kreasionisme. Bahwa Tuhan menciptakan makhluk hidup dalam enam hari. Sementara, teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dalam rentang waktu panjang. Dari satu sel, membelah diri, memperbanyak jumlah, hingga bervariasi menjadi keanekaragaman hayati.

Perdebatan tentang penciptaan itu sebenarnya disajikan membosankan. Terlalu banyak orang bicara. Ilustrasi perjalanan Darwin ke pulau Galapagos memang ada meski tidak banyak. Foto dan kunjungan ke rumah yang pernah ditempati keluarga Darwin juga ditampilkan. Di sanalah ia berkeluarga dengan sepupunya hingga memiliki 10 anak—tiga diantaranya meninggal semasa kecil.

Seorang narasumber berkisah tentang keajaiban yang dirinya alami ketika mengalami kondisi sakit. Doa dan pengobatannya berbuah kesembuhan. Dia lalu mengajak, “I would love to encourage Mr. Darwin and other who feels just like him to try God.”

Penderitaan serupa sebenarnya pernah dialami keluarga Darwin. Putri kesayangannya, Annie Darwin, meninggal di usia 10 tahun karena penyakit TBC. Sejumlah sejarawan mencatat momen itu justru menjadi titik balik kepercayaan Darwin atas Tuhan—meski ada pula yang menyebut bahwa proses kehilangan iman itu gradual dan kompleks.

Di Indonesia, perdebatan serupa pernah terjadi. Seorang edukator biologi, Prasdianto, menulis surat sanggahan setelah seseorang menulis opini tentang pendidikan biologi dan evolusi. Yang membuat dia kesal, tulisan itu tendensius, miskin data dan dimuat di majalah PC Media—majalah komputer. Intinya, Pras menyerang balik tuduhan bahwa “guru biologi memaksakan teori evolusi”, “biolog tidak membaca buku Darwin”, hingga “manusia adalah keturunan monyet”. Tulisan selengkapnya bisa dibaca di tautan ini.

Film Questioning Darwin juga merekam momen ketika ia bersurat dengan seseorang tentang perbedaan morfologi hewan di Galapagos dibanding pulau besar Amerika Selatan. Sejarah mencatat, ia berkorespondensi dengan naturalis lain yang meneliti fenomena serupa di kepulauan nusantara—yang kini jadi wilayah Indonesia. 

Namanya Alfred Russel Wallace. Wallace sendiri—yang saat itu tinggal di Ternate—dikenal dengan garis imajiner yang membatasi dua daratan besar di masa lalu. Teorinya tentang garis Wallace menjelaskan tentang perbedaan jenis hewan di daerah timur Indonesia dan bagian barat.

Terlepas dari pertanyaan tentang peran Wallace dalam teori evolusi dan kepercayaan Darwin atas Tuhan, yang pasti evolusi jadi salah satu cara bagi manusia memahami alam. Teori evolusi—seperti yang ditulis Prasdianto—membuat manusia (harusnya) meruntuhkan keangkuhan dalam mengeksploitasi makhluk lain:
“Jika Copernicus dan Galileo menihilkan bumi sebagai pusat alam semesta, maka Darwin menihilkan manusia sebagai ciptaan spesial.” []

Friday, May 1, 2020

Dekade Pearl Jam


Sekitar satu dekade lalu, saya cukup banyak menghabiskan waktu di perpustakaan LSI IPB. Selain tuntutan menulis skripsi, perpustakaan jadi tempat enak buat akses bacaan menarik. Salah satunya, majalah TEMPO. Dalam suatu edisi, ada ulasan tentang film PJ20. Film dokumenter ini menceritakan perjalanan karir band Pearl Jam selama 20 tahun. Film ini, baru tahun 2020 ini saya tonton.

PJ20
Pearl Jam 20 diceritakan dari sudut pandang Cameron Crowe—wartawan Rolling Stone yang keseruan profesinya ia gambarkan di film Almost Famous. Ia terkesima dengan sensasi musikal di daerah Seattle AS. Salah satu yang menarik perhatiannya, band bernama Mother Love Bone. Sang vokalis Andrew Wood, dikenal sebagai seorang frontman yang kharismatik. Sayangnya, ia meninggal karena overdosis heroin. Tiga anggota band ini kemudian membentuk band baru: Pearl Jam.

Wawancara dalam PJ20 tampil kasual. Ada momen ketika vokalis Eddie Vedder kaget disodori kaset berisi rekaman demo pertamanya. Dia juga sempat memamerkan dinding berisi koleksi foto keluarganya—ayah Eddie ternyata juga pemusik
.
Dalam sesi lain, gitaris Stone Gossard mengajak kita masuk ke sebuah ruangan. Barang di sana terkesan ditata berantakan. Dan di sanalah ia menyimpan piala Grammy. Kisah pun bergulir ke berbagai pencapaian band yang ia bentuk selepas Mother Love Bone.

Bagi saya yang menggemari lagu Daughter, momen paling menarik tampak ketika diperlihatkan kisah di balik layar pembuatan track ketiga dari album kedua Pearl Jam berjudul Vs. (1993) itu. Lagu lain juga ditampilkan tematik. Rekaman live Pearl Jam membawakan “Not For You”—lagu yang menurut Vedder berkisah tentang eksploitasi pemuda—ditayangkan setelah ulasan konflik band itu dengan Ticketmaster.

Pearl Jam pernah terlibat seteru dengan perusahaan pengelola panggung Ticketmaster soal (salah satunya) ketidaksepakatan penerapan harga tiket. Pihak Ticketmaster ingin menarik biaya jasa dari sebuah konser gratis di hari buruh 1 Mei 1992. Mereka lalu pecah kongsi. Setelahnya, Pearl Jam jadi band “indie” ketika menggelar konser.

Selain soal cerita-cerita di atas, PJ20 juga berisi momen kedekatan band ini dengan Nirvana (dan Kurt Cobain). Di hari ketika Kurt tewas akibat bunuh diri pun, Eddie menyampaikan salutasi dari atas panggung.

Lingkungan
Katanya, musik yang kita suka di masa remaja akan kita suka selamanya. Meski sekitar 10 tahun sudah lewat dari masa jayanya, saya ternyata kepincut musik Grunge, termasuk Pearl Jam. Ketika album Riot Act dirilis tahun 2002, lagu I Am Mine dari dalamnya sering saya putar ulang. Waktu itu, saking belum ngerti bahasa inggris, saya sempat bingung ketika melihat kamus dan membaca bahwa “mine” berarti “tambang (minyak/ batu bara)”. Maka I Am Mine berarti Aku Adalah Tambang. Haha.

Itu waktu saya SMP. Beberapa tahun berselang—jelang lulus kuliah—saya masih iseng aktif di kegiatan kemahasiswaan. Kebetulan, aktivitas saya di Koran Kampus mengenalkan saya ke Pak De.

“Saya duduk di depan LSI, yang gondrong.”

Kurang lebih begitu tulisan SMS balasan Pak De yang saya terima ketika dia akan saya wawancara tentang Wahana Telisik Seni dan sastra alias WTS—sengaja S-nya mereka tulis satu. Dari sanalah kemudian, saya ikut aktif di WTS. Ternyata, banyak anak-anak—untuk menghidari istilah “anggota”—WTS yang juga aktif di organisasi lain: UKF atau Uni Konservasi Fauna. Akhirnya, saya ikutan juga.

Waktu itu—entah sekarang—markas UKF ada di sebuah pertigaan kawasan Babakan Lio. Di dalamnya, ada kamar yang penuh berisi buku. Itulah kamar Pak De. Perpustakaan kecil itu pun dia beri nama: Juvenil. Di sana, saya pinjam dan baca beberapa buku. Dari pergaulan itu pula, saya dikenalkan ke film Into The Wild (2007).

Into The Wild
Into The Wild menceritakan kisah Christopher McCandless yang memilih hidup di hutan. Dia meninggalkan kehidupan “normal” yang biasa dijalani seorang warga kelas menengah negara maju setelah lulus kuliah. Melalui film itu, vokalis Pearl Jam Eddie Vedder merilis proyek solo.

Seketika, album itu jadi favorit. Lagu terakhir dalam album berisi 11 lagu ini bahkan memenangkan penghargaan Best Original Song dalam ajang penganugerahan Golden Globe. Judulnya Guaranteed. Ketika mengerjakan album ini, Vedder mengibaratkan tiap komposisi lagu punya karakter warna masing-masing—dan memang terasa begitu.

“I just gave him (sutradara: Sean Penn) 25 minutes of music (durasi total album ini 33 menitan), stuff I felt that were colors on the palette.”

Gigaton
Selang sekian lama, Pearl Jam merilis album berjudul Gigaton. Kata itu kini banyak dipakai untuk berita buruk tentang krisis iklim. Dalam pidatonya di tahun 2015, Obama menyitir data bahwa 75 gigaton (juta ton) es mencair di Alaska dalam setahun. Dari sisi visual, Gigaton juga memajang foto gletser yang direkam biolog Paul Nicklen. Dalam lagu Quick Escape, Eddie menyisipkan sindiran bagi Trump yang meremehkan krisis iklim.

Dalam lagu yang sama, juga ada potongan lirik tentang masa depan distopia. Bahwa kombinasi rumput hijau, langit dan anggur merah hanya mungkin ada di masa lalu.

“Oh, and we think abput the old days
Of green grass, sky and red wine
Should’ve known its so fragile” []

Saturday, April 25, 2020

Reformasi


Hari Jumat kemarin, ada diskusi tentang buku Gen buatan Siddharta Mukherjee. Pemandunya seorang edukator biologi, Prasdianto. Yang jadi pembicara utama, dokter neurosains Ryu Hasan. Pembicaraan dokter Ryu tidak melulu soal isi buku Gen, tapi justru soal gen itu sendiri. Bahwa studi dan berbagai temuan tentang gen dan genetika, jadi penanda penting perkembangan ilmu biologi.

Di akhir diskusi, dokter Ryu menjawab sebuah pertanyaan menarik: ketika perkembangan ilmu pengetahuan—dalam hal ini biologi—semakin melampaui batas etika manusia, siapa yang nantinya berwenang menetapkan batas baru? Dokter Ryu menjawab dengan sebuah contoh. Ketika seorang dokter disodori perampok yang berdarah-darah, maka urusannya cuma satu: menyelamatkan hidup. Soal perampok itu menjalani pertanggungjawaban atas perbuatannya, bukan urusan si dokter. Maka jawaban pertanyaan di atas: tergantung sudut pandang pemanfaatan temuan sains tadi.

Perumpamaan dokter Ryu, mengingatkan saya ke sepotong adegan di awal film 1987. Ceritanya tentang peran berbagai profesi di Korea Selatan dalam menumbangkan pemerintahan represif. Di tahun yang dipakai jadi judul filmnya, terjadi rangkaian peristiwa serupa Indonesia di tahun 1998.

Bulan Januari kala itu, seorang dokter diminta menolong mahasiswa yang menjalani pemeriksaan sebagai terduga komunis. Pemerintah Korea Selatan ketika itu menjadikan penumpasan komunisme—yang dijalankan di Korea Utara—sebagai dalih untuk mempertahankan kekuasaan. Pengkritik pemerintah, dicap komunis. Mereka diinterogasi dengan siksaan, sukur-sukur sampai kapok melawan pemerintah. Sayangnya, di awal tahun itu polisi tidak sengaja membunuh sang mahasiswa: Park Yong-chul.

Di Indonesia tahun 1998, ada peristiwa serupa. Mahasiswa yang melakukan aksi damai dibubarkan aparat, bahkan ditembak mati. Sampai sekarang, tidak ada yang bertanggung jawab. Pihak jaksa agung yang harusnya jadi pengusut kasus Semanggi, malah memaklumi insiden tadi.

Dalam 1987, ada rangkaian subkisah pilu tentang orang tua Yong-chul yang sangat kehilangan. Ibunya histeris ketika sang anak—yang masih ia panggil “bayiku”—harus pergi lebih dulu. Sebuah adegan puitik juga digambarkan ketika abu jenazah Yong-chul dilarung ke sungai.

Di Indonesia pada bulan April tahun 2020, keluarga pahlawan reformasi—begitu para korban penembakan Mei 1998 digelari—masih terus menuntut penegakan hukum melalui aksi kamisan. Tiap Kamis, mereka berdiri di depan Istana Kepresidenan. Aksi ini sudah digelar 632 kali. Pemerintahan berganti, tuntutan mereka tetap sama.

Satu fragmen film 1987 juga merefleksikan kondisi di Indonesia. Seorang ahli forensik diminta merekayasa hasil otopsi. Jaksa diarahkan menyetujui kremasi tanpa otopsi. Meski harus berkompromi, ia pada akhirnya membocorkan dokumen asli penyebab kematian Yong-chul kepada wartawan—paru-paru sang mahasiswa diisi air. Maka, mahasiswa, dokter, jaksa, pers, lalu disusul pemuka agama, sipir, pemimpin oposisi, bergerak menggulingkan tirani.

Aksi kejar-kejaran aktivis prodemokrasi juga digambarkan film ini. Pasokan informasi buat dia, disalurkan seorang sipir. Petugas penjara ini rajin mencatat pembicaraan di ruang besuk tahanan politik. Informasi itulah yang ia sembunyikan dari pemeriksaan polisi berpakaian sipil.

Indonesia di bawah rezim orde baru, ditakut-takuti dengan represi serupa. Plus, fiksi tentang deskripsi pembunuhan para jenderal korban peristiwa G-30-S: mata dicungkil, bagian tubuh diiris silet. Nyatanya, setelah April 1987 barulah kita tahu melalui Cornell Paper yang ditulis Benedict Anderson, bahwa hasil visum et repertum tidak menunjukkan informasi sadistik tadi. Rilis Jurnal Indonesia itu lalu jadi salah satu bahan bakar reformasi.

Segmen akhir 1987 diakhiri romantika kisah mahasiswa Lee Han-yeol yang juga tewas karena serangan aparat. Ia dilihat dari sudut pandang seorang mahasiswi yang diselamatkan Han-yeol di sebuah kerusuhan. Sang mahasiswi—yang juga keponakan sipir penjara di atas—sempat membelikannya sepatu. Sepatu itu pula yang ia pakai ketika kepala bagian belakangnya dihantam peluru. Momen akhir kehidupan Han-yeol lalu jadi foto utama koran esok harinya. Sang mahasiswi berduka, lalu gabung ke kerumunan massa yang menuntut perubahan pemerintahan.

Kita sebenarnya punya juga film yang merekam momen semacam itu. Tahun 2015—dua tahun lebih awal dari rilis film 1987—Lukman Sardi menyutradarai film Di Balik 98. Ceritanya tentang seorang mahasiswa yang abangnya seorang tentara. Mereka bertemu di arena demonstrasi. Sementara, sang mahasiswa juga punya pacar sesama aktivis, yang kena imbas hembusan isu rasial di masa gawat Mei 1998. Dua film ini, Di Balik 98 dan 1987, menggambarkan bahwa mahasiswa punya peran besar dalam perubahan sebuah negara. []