Thursday, August 11, 2016

Memahami Relasi Media dan Kekuasaan

Saya baru khatam membaca disertasi yang dialihwujudkan ke dalam sebuah bacaan popular. Judulnya Media & Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto. Buku setebal kurang dari 300 halaman ini ditulis Ishadi SK, seorang praktisi media dan jurnalisme yang berjasa mendirikan jaringan Trans Media dan CNN Indonesia. Subjudul buku keluaran Penerbit Buku Kompas ini gamblang membocorkan konten di dalamnya. Karena ini disertasi, maka hal-hal yang dipaparkan di dalamnya tentu tak jauh dari hal-hal saintifik, untuk meyakinkan bahwa saripati gagasannya sahih karena melalui proses yang teruji. Meski begitu, saya nggak terlalu tertarik membaca (dan membahas) hal-hal akademis tadi. Fokus perhatian saya terhadap buku ini ada di gambaran suasana detik-detik menjelang kejatuhan sang penguasa orde baru, dan kaitannya dengan ihwal kebebasan pers di Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto berada di ambang masa jabatannya, Ishadi SK duduk di Kementerian Penerangan, sebagai Dirjen Radio, Televisi dan Film. Dari penggalian fakta dan pemaknaan dari kacamatanya, suasana di balik ruang olah berita (newsroom) didedahkan terbuka. Setelah menjelaskan tentang tinjauan pustaka terhadap newsroom dan produksi di dalamnya dalam dua bab pertama, Ishadi membekali pengalaman pembaca dengan sejarah pendirian stasiun televisi di Indonesia di bab 3. Di bab inilah berbagai konsep pertelevisian diperkenalkan.[1]

Ada televisi pemerintah, televisi swasta dan televisi publik. Televisi pemerintah berarti stasiun atau saluran televisi yang dibiayai negara (penguasa) dan berfungsi mencitrakan pemerintah (tepatnya penguasa). Misalnya TVRI. Jenis kedua adalah televisi yang tunduk ke dalam aturan pasar: televisi swasta didanai pengiklan dengan konten yang sebagian di antaranya menyesuaikan terhadap kebutuhan pendanaan tersebut. Contohnya RCTI, SCTV, Indosiar. Sementara itu kategori terakhir, televisi publik, dipercaya sebagai jenis televisi yang paling ideal. Mesin televisi publik dihidupi iuran pemirsanya, sehingga keberpihakan televisi jenis ini lebih berimbang. Sebagai contoh, di Jerman ada ZDF dan ARD, Kanada punya CBC. Meski tidak menutup total pintu terhadap pengiklan, darah mereka sebagian besar adalah dana iuran pemirsanya. Di Indonesia, jenis televisi itu barangkali contohnya Berita Satu dan CNN Indonesia. Keduanya merupakan kanal berbayar, yang bisa ditonton melalui jaringan TV kabel.

Peran tiga televisi swasta dalam pergantian rezim kekuasaan jadi fokus bahasan buku ini. RCTI, SCTV dan Indosiar, dengan cara masing-masing memakan ibu mereka sendiri: pemerintahan 32 tahun orde baru. Pada mulanya, ketiga pionir stasiun televisi swasta itu diizinkan berdiri untuk menyesuaikan dengan selera pemirsa, seraya menjaga agar fondasi kekuasaan orde baru tetap terjaga. Namun aksi-aksi berani jurnalis di dalamnya berhasil memanaskan tuntutan agar Soeharto turun hingga pada akhirnya rezim kemudian berganti. Kisah-kisah dari ruang newsroom itulah yang paling seru. Bab 4 dan 5 dipenuhi cerita-cerita itu.

Dalam bab berikutnya, Ishadi menganalisa muatan berita yang berisi legitimasi dan delegitimasi kekuasaan orde baru. Maksudnya, sejumlah contoh berita dibandingkan menurut intensi pembuatnya, apakah bertujuan melanggengkan kekuasaan orde baru atau sebaliknya. Di bab terakhir, temuan dan analisa penulis disimpulkan. Ada sejumlah bagian yang saya garisbawahi.
Demikianlah, di era apa pun jurnalis di ruang berita televisi tidak pernah bisa menikmati kemerdekaan secara sepenuhnya. (hal. 253)
Karena itu, jurnalis harus terus meningkatkan visi dan pengetahuannya, serta terus-menerus mengasah hati nuraninya agar dapat terus-menerus memperkuat posisinya berjuang melawan tekanan-tekanan pasar sebagaimana yang dituntut oleh pemilik modal di era market regulations sekarang ini. (hal. 254)
***
[1] Catatan kaki dijabarkan di halaman berbeda. Bagi saya penempatan demikian kurang nyaman karena harus membolak-balik halaman untuk tahu apa yang dijabarkan dalam sebuah penanda. Penjelasan sejumlah catatan betul-betul memperkaya konten utama dan sayang untuk dilewatkan.

No comments:

Post a Comment