Showing posts with label homo deus. Show all posts
Showing posts with label homo deus. Show all posts

Tuesday, July 28, 2020

Data

I deleted my data. Wittingly. It was including several thousands of mp3, a number of movies and at least four folders of my overseas visits photos and videos. It began when I decided to format an SD card that contained a video from 2016. As I entered it, I didn't realize that the drive wasn't detected by my laptop. I thought the drive F was the card that I want to format. Without hesitation, I pushed the button and got shocked to have known that I formatted the wrong drive. My heart instantly beat faster.

In 2016 I did the same mistake. It was the time when I am paving my dream to pursue a master degree--which haven't been accomplished yet up until today. I recorded the video of myself studying IELTS. I also portrayed of how I join the test. The moment of regret came right after I received the result. I didn't pass the minimum score of IELTS to apply for a scholarship. Not to mention the criteria to get the Letter of Acceptance (LoA) from the university.

Up until now, sometimes I think about it. The moments of failure (that I deleted) actually could get me up through the fight, I guess. Unfortunately, no matter how hard I tried to recover, they have gone. One thing for sure, I ought to get over it.

It was awkward to know that data could be that quite important for me--maybe for you as well. I remember to the analysis as told by Yuval Noah Harari. In his second book entitled Homo Deus, this Israeli historian wrote that we are now applying what he called as the religion of data.

Yuval defined religion simply as an ideology. The religion of data could be determined by how its follower(s) apply the freedom of data. It has to be flow uninterruptedly. Who was the adherents of data religion? They could be us. Whomever apply the principle of data freedom, they are the follower of such belief. No matter they accept the label or not. []

Thursday, May 21, 2020

Informasi

Tindakan atau keputusan yang kita ambil, berkaitan dengan informasi yang kita terima. Nyatanya, hari-hari ini informasi tadi bisa dikendalikan. Tahun 2016, warga yang ikut pemilu di AS dibombardir informasi yang mengarahkan mereka ke satu keputusan: memilih Donald Trump sebagai presiden.

Bagaimana skema itu bekerja? Film The Great Hack menjabarkannya. Sejumlah pemilik akun media sosial facebook, mengisi kuesioner. Biasanya, kuis psikologis semacam itu dianggap asik-asikan aja. Nanti mereka akan digolongkan ke kategori tertentu berdasarkan hasil tes itu. Lalu tentu saja: dipamerkan di wall.

Yang tidak mereka sadari, alat identifikasi preferensi politik itu difasilitasi sebuah perusahaan bernama Cambridge Analitica. Berdasarkan data tadi, laman Facebook responden akan disodori informasi yang mengarahkan mereka ke dua tindakan utama: mendukung Trump jadi presiden dan setuju Brexit—Britain Exit, keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa.

The Great Hack menayangkan testimoni mantan karyawan Cambridge Analitica. Pengakuan mereka dikonfirmasi ke CEO CA: Alexander Nix. Sayangnya dia menolak diwawancara untuk film ini. Meski begitu, ada rekaman suara, transkrip pengiriman email hingga video dari kamera tersembunyi yang mengonfirmasi aksi Cambridge Analitica.

Kondisi itulah yang diwanti-wanti sejarawan Yuval Noah Harari sebagai kondisi bernama digital dictatorship. Yang dia maksud, propaganda melalui media sosial, bisa mengarahkan kita melakukan sesuatu sesuai arahan si diktator (Google dan Facebook)—tanpa kita sadari. Karena ternyata, situasi di atas memperkuat argumennya pula perihal predikat manusia sebagai hackable animal.

Meski menyebut manusia sebagai animal—dalam konteks biologi—dalam buku Homo Deus, Yuval sebenarnya lebih banyak menekankan bahwa makhluk hidup—termasuk manusia—sejatinya adalah algoritma, sehimpun tahapan kerja. Dia menyandingkan kita serupa dengan mesin, yang berfungsi dengan arahan berurutan—input masuk, diproses, keluar output.

Gagasan bahwa makhluk hidup adalah benda mati—atau sebaliknya—pernah juga dilontarkan Kevin Kelly, seorang tech journalist. Di tahun 2011, dia mempresentasikan argumen bahwa kini, muncul kingdom ketujuh.

Kingdom yang ia maksud, berkaitan dengan sistem penggolongan makhluk—taksonomi. Lazimnya, ada 6 kingdom yang kita pelajari di sekolah:
  1. Animalia (hewan),
  2. Plantae (tumbuhan),
  3. Monera (sel tanpa membran inti),
  4. Protista (sel dengan membran inti),
  5. Fungi (jamur),
  6. Virus.

Kingdom ketujuh, bernama technium. Singkatnya, semua teknologi buatan manusia, bisa digolongkan ke sini. Dari tulang yang dimodifikasi jadi alat, sampai pesawat antariksa. Dari Turing Machine sampai Artificial Intelligence (AI).

Dalam novel Origin, Dan Brown mengutip kekhawatiran Kelly tentang punahnya spesies Homo sapiens karena teknologi. Yuval—sekali lagi—membuka kemungkinan Homo sapiens punah dan digantikan spesies lain bernama Homo deus.

Sejauh ini, yang membedakan animalia dan technium (manusia dan AI) ada di satu aspek: kesadaran atau consciousness. Sederhananya, ketika kita sadar dengan konsekuensi atas tindakan dan memutuskan berdasarkan pengalaman, saat itulah kita memanfaatkan kesadaran. Bukan cuma mengolah input sehingga output menjadi sesuatu yang terjadi secara mekanistik. Video ini menjelaskan konsep kesadaran dengan relatif mudah dipahami dalam tiga menit pertama.

Maka, kala kita menerima informasi dan terdorong untuk melakukan sesuatu, tak ada salahnya kita gunakan kemanusiaan kita: eling lan waspodo.

Wednesday, May 20, 2020

Bullying

Perundungan atau bully jadi sorotan lagi. Rizal, seorang anak berusia 12 tahun dianaya sekelompok orang. Saya nggak nonton videonya. Nggak tega. Istri saya yang cerita. Dia geram katanya kok orang-orang itu beraninya ke anak yang terlihat lebih lemah dari mereka—yang bergerombol. Saya cuma jawab: memang begitulah karakter pengecut pelaku bullying.

It

Saya jadi ingat film It. Yang dibagi jadi dua bagian itu. Film horror tentang hantu badut di kota Derry. Sekawanan anak berusaha mengusir kutukan yang datang ke kota itu dalam selang waktu puluhan tahun. Awalnya, adik seorang di antara mereka hilang diculik iblis bernama Pennywise.

Dalam It pertama, kisah berakhir di masa remaja para tokoh utama. Selain mengusir hantu dari masa awal pendirian kota Derry, mereka juga bertarung dengan perundungan. Seorang tokoh antagonis mengintimidasi anak berbadan tambun. Dia juga menyasar anak berkulit hitam dan satu anak lain yang gagap bicara. Saya membaca, It sebenarnya metafora perlawanan terhadap ketakutan—yang bukan cuma soal hantu.

It kedua berlanjut saat tokoh utama dewasa. Rupanya trauma menggelayuti mereka. Iblis Pennywise jadi halusinasi bagi kawanan ini, tapi tetap mematikan. Di sisi lain, pelaku bullying belum berubah. Di antara kawanan itu, ada yang akhirnya bunuh diri.

Kekuatan Medsos

Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau media sosial tidak menyelamatkan Rizal. Dia cukup beruntung karena videonya viral, dan massa yang menyaksikan kemalangan Rizal bersimpati.

Bagaimana jika, misalnya Chester Bennington diselamatkan dengan kondisi serupa. Maksud saya, ketika dia juga mengalami bullying di masa mudanya, barangkali bebannya berkurang jika ada yang berempati. Dan akhirnya bisa jadi batal bunuh diri—terlepas faktor lain ikut berpengaruh ke keputusannya.

Kalimat berikut ini barangkali bikin nggak nyaman. Keterbukaan data dalam hal ini menyelamatkan. Satu bab buku Homo Deus, memaparkan tentang agama data. Bagi Yuval Noah Harari (penulis buku itu) agama berarti ideologi—yang kemudian tercermin dalam sebuah keadaan.

Agama data berarti sebuah kondisi atau pola pikir ketika aliran data jadi yang utama. Dan menurut buku tadi, di situlah sekarang kita ada. Setiap kali kita berbagi data, ketika itu pula ritual agama data sedang dijalankan. Seperti halnya dua sisi mata pedang ideologi lain. Keterbukaan data seperti yang dialami Rizal menguntungkan. Kebocoran data serupa kasus Cambridge Analitica, berujung sebuah kondisi: digital dictatorship. []



View this post on Instagram

Buku apa yang paling berpengaruh terhadap caramu memandang kehidupan? Jawabanku, judul ini. Homo Deus isinya tentang analisa Yuval Noah Harari terhadap masa depan manusia. Katanya, di masa depan, Homo sapiens akan berevolusi jadi Homo deus. Sapiens kan berarti bijak, sementara deus berarti dewa. Jadi ke depan, evolusi akan menjadikan manusia sekuat “tuhan”. Kenapa bisa begitu? Karena berdasarkan studi sejarah peradaban umat manusia yg dia pelajari—Yuval berstatus profesor ahli militer abad pertengahan—manusia semakin bisa mengatasi tantangan dasar kemanusiaan. Apa itu? Kelaparan, peperangan, penyakit. Ribuan tahun tiga hal itu jadi masalah utama peradaban manusia. Akhir2 ini, masalahnya bergeser ke: kebahagiaan, keabadian, kekuasaan. Ketika tiga hal itu teratasi, Homo sapiens punah. Balik lagi ke pertanyaan pertama. Apakah buku ini benar2 menjawab semua pertanyaan kemanusiaan? Nggak juga, karena sudut pandangnya dari sisi ilmu sejarah, ekonomi dan biologi (evolusi). Butuh sudut pandang lain agar upaya manusia untuk abadi, berkuasa dan bahagia tidak menghilangkan “kemanusiaan”. #homodeus
A post shared by Rheza Ardiansyah (@rheza.ardiansyah) on