Wednesday, May 20, 2020

Bullying

Perundungan atau bully jadi sorotan lagi. Rizal, seorang anak berusia 12 tahun dianaya sekelompok orang. Saya nggak nonton videonya. Nggak tega. Istri saya yang cerita. Dia geram katanya kok orang-orang itu beraninya ke anak yang terlihat lebih lemah dari mereka—yang bergerombol. Saya cuma jawab: memang begitulah karakter pengecut pelaku bullying.

It

Saya jadi ingat film It. Yang dibagi jadi dua bagian itu. Film horror tentang hantu badut di kota Derry. Sekawanan anak berusaha mengusir kutukan yang datang ke kota itu dalam selang waktu puluhan tahun. Awalnya, adik seorang di antara mereka hilang diculik iblis bernama Pennywise.

Dalam It pertama, kisah berakhir di masa remaja para tokoh utama. Selain mengusir hantu dari masa awal pendirian kota Derry, mereka juga bertarung dengan perundungan. Seorang tokoh antagonis mengintimidasi anak berbadan tambun. Dia juga menyasar anak berkulit hitam dan satu anak lain yang gagap bicara. Saya membaca, It sebenarnya metafora perlawanan terhadap ketakutan—yang bukan cuma soal hantu.

It kedua berlanjut saat tokoh utama dewasa. Rupanya trauma menggelayuti mereka. Iblis Pennywise jadi halusinasi bagi kawanan ini, tapi tetap mematikan. Di sisi lain, pelaku bullying belum berubah. Di antara kawanan itu, ada yang akhirnya bunuh diri.

Kekuatan Medsos

Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau media sosial tidak menyelamatkan Rizal. Dia cukup beruntung karena videonya viral, dan massa yang menyaksikan kemalangan Rizal bersimpati.

Bagaimana jika, misalnya Chester Bennington diselamatkan dengan kondisi serupa. Maksud saya, ketika dia juga mengalami bullying di masa mudanya, barangkali bebannya berkurang jika ada yang berempati. Dan akhirnya bisa jadi batal bunuh diri—terlepas faktor lain ikut berpengaruh ke keputusannya.

Kalimat berikut ini barangkali bikin nggak nyaman. Keterbukaan data dalam hal ini menyelamatkan. Satu bab buku Homo Deus, memaparkan tentang agama data. Bagi Yuval Noah Harari (penulis buku itu) agama berarti ideologi—yang kemudian tercermin dalam sebuah keadaan.

Agama data berarti sebuah kondisi atau pola pikir ketika aliran data jadi yang utama. Dan menurut buku tadi, di situlah sekarang kita ada. Setiap kali kita berbagi data, ketika itu pula ritual agama data sedang dijalankan. Seperti halnya dua sisi mata pedang ideologi lain. Keterbukaan data seperti yang dialami Rizal menguntungkan. Kebocoran data serupa kasus Cambridge Analitica, berujung sebuah kondisi: digital dictatorship. []



View this post on Instagram

Buku apa yang paling berpengaruh terhadap caramu memandang kehidupan? Jawabanku, judul ini. Homo Deus isinya tentang analisa Yuval Noah Harari terhadap masa depan manusia. Katanya, di masa depan, Homo sapiens akan berevolusi jadi Homo deus. Sapiens kan berarti bijak, sementara deus berarti dewa. Jadi ke depan, evolusi akan menjadikan manusia sekuat “tuhan”. Kenapa bisa begitu? Karena berdasarkan studi sejarah peradaban umat manusia yg dia pelajari—Yuval berstatus profesor ahli militer abad pertengahan—manusia semakin bisa mengatasi tantangan dasar kemanusiaan. Apa itu? Kelaparan, peperangan, penyakit. Ribuan tahun tiga hal itu jadi masalah utama peradaban manusia. Akhir2 ini, masalahnya bergeser ke: kebahagiaan, keabadian, kekuasaan. Ketika tiga hal itu teratasi, Homo sapiens punah. Balik lagi ke pertanyaan pertama. Apakah buku ini benar2 menjawab semua pertanyaan kemanusiaan? Nggak juga, karena sudut pandangnya dari sisi ilmu sejarah, ekonomi dan biologi (evolusi). Butuh sudut pandang lain agar upaya manusia untuk abadi, berkuasa dan bahagia tidak menghilangkan “kemanusiaan”. #homodeus
A post shared by Rheza Ardiansyah (@rheza.ardiansyah) on

No comments:

Post a Comment