Showing posts with label najwa shihab. Show all posts
Showing posts with label najwa shihab. Show all posts

Friday, May 29, 2020

Paham-Hampa

Semalam istri saya belanja.

“Hayo, Coca Cola lagi!” komentar saya spontan.

Windi sedikit muram. Saya tanggapi dengan bertanya:

“Kamu tahu ga ekofasisme?” iya, ini bukan cara bagus buat mencairkan suasana. Windi menggeleng. Paparan berikut ini juga bukan teknik terbaik menjelaskan tanpa terkesan membosankan.

Ekofasisme terdiri dari dua suku kata: eko dan fasisme. Eko memiliki makna “berkaitan dengan lingkungan”. Fasisme, berhubungan dengan keyakinan bahwa dirinya terbaik. Nazisme salah satu contohnya. Penganut ideologi itu, yakin bahwa ras mereka layak sintas. Sisanya bisa dibasmi.

Ekofasisme maksudnya, bersikap fasis atas dasar keyakinan ekologis. Seolah-olah, seorang ekofasis merasa dirinya paling ramah lingkungan. Selain dia, orang lain musti berubah atau ekstrimnya, nggak usah ada. Dan itu bahaya.

Kepada Windi, saya bilang bahwa mungkin tabiat saya punya kencenderungan serupa itu. Meskipun sedikit.

“At least aku sadar bahwa itu salah,” saya membela diri.

Windi lalu menimpali bahwa hal-hal yang di mata saya tidak ideal, ada alasannya. Seperti lazimnya semua fenomena. Permakluman atas latar belakang itulah yang pada akhirnya bisa melahirkan sikap empati.

Di masa pandemi ini, ekofasisme jelas berbahaya. Indikator kualitas lingkungan yang bernada positif seringkali ditafsirkan bahwa dunia lebih enak ditinggali. Padahal, ada jutaan nyawa manusia yang harus dibayar untuk itu. Dan seorang ekofasis tidak akan benar-benar peduli. Baginya, asalkan bumi lestari. Persetan kemanusiaan—meskipun dia sendiri manusia.

Saya lalu ingat satu baris kalimat dari puisi Joko Pinurbo. Judulnya Kamus Kecil. Dalam wawancara dengan Fenty Effendi, Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia membacakan puisi ini. Dia menambahkan, bahwa karya Jokpin dari Buku Latihan Tidur jadi representasi keindahan Bahasa Indonesia. Najwa menyitir definisi dari Sapardi Djoko Damono bahwa inti puisi itu bunyi.
Bahwa lidah memang pandai berdalih 
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa 
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman
Baris kedua itu seiring juga dengan keluhan istri saya soal ekspresi beberapa gagasan yang baru saya pelajari. Dia takut saya terlalu idealis—meskipun saya merasa cukup pragmatis. Saya takut pertumbuhan kami nggak beriring lagi. Mungkin memang beberapa hal jangan dipahami terlalu jauh. []

Tuesday, May 26, 2020

Watergate


Skandal watergate rasanya nggak pernah habis dibahas. Padahal kejadiannya udah lewat hampir 50 tahun lalu. Ketika itu, ada lima orang yang tertangkap menerobos masuk ke markas pemenangan partai demokrat dalam pemilu tahun 1972. Lokasi kejadian itu di hotel Watergate. Ternyata, mereka terkait dengan presiden Richard Nixon. Singkat cerita, presiden Nixon mundur dari jabatannya pada tahun 1974.

Tiga tahun kemudian, Nixon hadir dalam wawancara yang dipandu seorang broadcaster asal Australia. Wawancara ini banyak dipuji. Kisah di balik wawancara kemudian difilmkan dengan judul Frost/ Nixon.

Dalam film itu, diperlihatkan bagaimana Frost menghadapi tantangan untuk mewawancarai Nixon. Dia diminta membayar kepada narasumbernya dalam jumlah besar: 600 ribu dolar AS. Sejumlah saluran penyiaran pun menolak "patungan" karena itu bertentangan dengan prinsip ruang redaksi mereka. Pada akhirnya, pihak Frost bisa membayar dan wawancara dibagi tiga sesi di hari yang berbeda-beda.

Wawancara Frost dan Nixon ibarat pertandingan tinju. Pewawancara dibekingi produser dan periset untuk merumuskan pertanyaan jitu. Sementara narasumber, dijaga seorang asisten yang bahkan nekat memotong proses wawancara ketika pihaknya terancam.

Meski saling berhadapan di meja wawancara, Frost dan Nixon berhubungan baik di belakang layar. Ada satu momen kunci yang jadi twist utama dalam kisah Frost/ Nixon ini. Apakah sang mantan presiden berhalusinasi?

Mata Najwa

Saya pernah ada di situasi serupa: menjadi kru talkshow Mata Najwa. Yang rasanya kurang lebih sama dengan kisah Frost/ Nixon: ketika tim kami menghadirkan wakil presiden Boediono.

Nama Boediono ada dalam lakon skandal Bank Century. Ketika menjabat Gubernur Bank Indonesia, ia dianggap bertanggung jawab memberikan lampu hijau untuk menyuntikkan dana agar bank kecil Century tidak bangkrut. Nyatanya, duit bantuan pemerintah itu dicuri. Nasabah Bank Century kehilangan tabungan mereka.

Di film Frost/ Nixon, David memulai wawancara dengan pertanyaan di luar dugaan. Nixon langsung ditanya tentang skandal Watergate.
“Why didn’t you burn the tapes?”
Adegan itu mengingatkan saya ke wawancara Najwa Shihab dengan Boediono yang “slow burning”. Dalam buku Mata Najwa: Mantra Layar Kaca, Fenty Effendy menuliskan:
“Itulah sebabnya ketika wawancara berjalan lambat, ketegangan menjalar hingga ke ruang kendali siaran di lantai empat, tempat produser dan pengarah acara memantau pergerakan kamera. Inilah jenis-jenis situasi yang bisa bikin mulas perut tim produksi Mata Najwa, termasuk Najwa Shihab sendiri.”
Meski begitu, perbincangan akhirnya mencair. Pertanyaan tentang dugaan keterlibatan dalam Centurygate—sebutan bagi skandal politik selalu berakhiran “gate” setelah kasus Watergate—dijawab juga.
“Begini ya. Saya ini 30 tahun menggeluti masalah ekonomi di pemerintahan. Saya sudah melihat, mengalami dan merasakan krisis, ada yang mini, menengah, besar. Ada karakterisrik tertentu yang harus kita tangani dalam situasi krisis dan saya anggap yang terjadi (pada Century) harus ditangani dengan cara tertentu, dan itulah yang saya lakukan.”
Bagian akhir wawancara Boediono, serupa dengan penutup film Frost/ Nixon. Sebelum masuk mobil RI-2, Boediono bertanya, “Najwa, may I hug you?”. Najwa menjawab spontan, “Yes, Pak.”

Sementara, Frost/ Nixon ditutup dengan pembicaraan empat mata Frost dan Nixon. Presiden AS ke-37 itu bertanya tentang panggilan telepon di sebuah malam. Dalam dunia nyata, adegan itu tidak pernah ada. Frost asli mengenang bahwa 10 persen dari film tentang wawancara Nixon itu, berupa fiksi. []

Sunday, May 10, 2020

Pemerintahan


Dalam wawancaranya bersama mendikbud Nadiem Makarim, Najwa Shihab mengutip opini menteri luar negeri Singapura Vivian Balakrishnan. Kata Najwa, pandemi covid-19 menguji kualitas sebuah bangsa dalam tiga aspek: layanan kesehatan, pemerintahan, dan modal sosial.
“Ketiganya itu bagaikan tripod. Kalau satu nggak ada, akan timpang. Karena kalau kita lihat poin ketiga—minimal modal sosial—rasa-rasanya malah justru bertambah subur saat ini,” Najwa memancing tanya.
Menteri Nadiem kemudian menganalogikan social capital dengan istilah “kekar”. Katanya, justru nge-gym-nya saat ini. Dalam kesempatan lain, gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga menyemangati warganet dengan foto solidaritas warga menyediakan bahan makanan untuk diambil gratis. Di foto terakhir, Ridwan Kamil bilang: “dari pembatasan sosial kita harus bergeser ke solidaritas sosial.”

Soal modal sosial di atas, memang kita bolehlah optimistis. Toh sebuah pemeringkatan di tahun 2018 menobatkan Indonesia jadi negara paling dermawan. Soal dua lainnya—layanan kesehatan dan pemerintahan—itulah yang ceritanya beda.

***

Bicara tentang aspek pemerintahan dalam menghadapi pandemi, ada beberapa momen yang bikin pusing. Satu, soal pembatasan aktivitas. Pemerintah bingung kondisi mana yang mau diterapkan—apakah itu darurat sipil atau karantina wilayah. Pada akhirnya, diciptakan istilah baru: PSBB. Pemerintah ogah menanggung kewajiban memenuhi kebutuhan warga dan hewan ternak seperti yang tertulis di undang-undang.

Dua, soal aturan mudik. Jubir istana sempat bilang boleh, sorenya diralat sekretaris kabinet. Presiden lalu bedakan istilah mudik dan pulang kampung. Terbaru, menhub sudah kembali bertugas dan bicara lain lagi soal mudik—atau pulang kampung.

Dalam sebuah obrolan news commentary, istri saya bertanya retoris: kok menteri yang aneh-aneh nggak diganti sama presiden? Padahal kan dari kalangan profesional, jadi beban politiknya lebih ringan. Jawaban saya singkat: begitulah watak kekuasaan. Saya lalu bilang bahwa kesan soal kekuasaan itu terhubung ke buku yang baru khatam saya baca: Animal Farm.

***

Animal Farm ditulis tahun 1945 oleh Eric Arthur Blair aliass George Orwell. Ceritanya tentang sebuah peternakan imajiner di Inggris. Para binatang di peternakan itu menggulingkan kekuasaan manusia.
“Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri.” (Hal. 6)
Kalimat di atas disampaikan Major, seekor babi tua yang “siapa pun siap kehilangan waktu tidur satu jam untuk mendengarkan apa yang harus ia katakan”. Setelah mati, Major mewariskan semangat pemberontakan ke babi dan hewan peternakan lain. Sampai akhirnya, peternakan dikuasai para binatang di bawah kendali tiga ekor babi: Napoleon, Snowball dan Squealer.
“Ketiga babi itu telah mengelaborasikan ajaran si tua Major ke dalam suatu sistem pemikiran yang komplet, yang kemudian mereka beri nama Binatangisme.” (Hal. 15)
Animal Farm, ditulis Orwell sebagai kritik atas pemerintahan otoriter di Uni Soviet. Ide kesetaraan yang dipromosikan babi Major, bisa dibaca sebagai perumpamaan sosialisme—yang juga jadi mimpi indah ideologi lain sejenis. Binatangisme—sebagai pengembangan ajaran Major—boleh jadi simbol Marxisme yang dicetuskan Karl Marx. Atau Marxisme-Leninisme yang dijalankan Lenin. Intinya: angan-angan indah ternyata berbuah sengsara.

Setelah babi berkuasa di Animal Farm—sebelumnya bernama Manor Farm—ternyata Boxer si kuda mati di usia pensiun dalam kondisi kepayahan. Ayam-ayam petelur ternyata juga harus terus mengorbankan calon anak mereka. Ayam betina yang mencoba berontak lalu dibantai. Sementara, tujuh aturan yang ditulis dalam binatangisme, terus dimodifikasi buat menguntungkan para babi yang berebut kuasa.
“Ya, sebuah perkelahian hebat tengah berlangsung. Ada teriakan, gebrakan pada meja, pandangan tajam curiga, bentakan marah. Sumber dari masalah itu, tampaknya adalah bahwa Napoleon dan Pak Pilkington masing-masing sama-sama punya kartu as sekop.” (Hal. 140)
Kartu as sekop atau ace of spades yang diceritakan di bagian akhir novel ini, punya pemaknaan menarik. Kartu as sendiri, di masa “Middle English” bermakna “sial”, tapi seiring dijadikan kartu bernilai paling tinggi, maknanya jadi “high-quality, excellence”. 

Ace of Spades juga terkenal sebagai judul sebuah lagu dari band rock legendaris asal Inggris, Motorhead. Kebetulan, baru-baru ini lagu Ace of Spades dirayakan lagi di tahunnya yang ke-40. Tanggal 8 Mei dilafalkan dalam bahasa inggris berbunyi serupa judul lagu itu—the Eight of May. Musiknya disebut-sebut menginspirasi lahirnya variasi lain musik rock semacam trash metal. Sementara, dalam liriknya tertulis:
I don’t share your greed, the only card I need is
The Ace of Spades

The Ace of Spades
Playing for the high one, dancing with the devil
Going with the flow, it’s all a game to me []

Sunday, January 8, 2017

Mantra Layar Kaca

Sejak tahun 2013, saya bertugas sebagai reporter di program Mata Najwa Metro TV. Episode pertama yang ada kerja saya di dalamnya, adalah tayangan berjudul “Rindu Daripada Soeharto”. Setelah itu, selama sekitar 14 bulan saya belajar di program yang dimotori Najwa Shihab itu. Tahun 2013, Mata Najwa sedang gencar memulai lagi format talk show yang digelar di kampus-kampus: Mata Najwa On Stage.

Saya pertama kali bertugas di tahap ini, ketika MOS digelar di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 14 Desember 2013. Kala itu saya jumpa dengan seseorang berkacamata bundar dan rambut pendek. Belakangan kami berkenalan. Ternyata ia Fenty Effendy, yang dua tahun kemudian menerbitkan buku tentang Mata Najwa bejudul Mantra Layar Kaca. Mbak Fenty—demikian saya kemudian menyapanya—sebenarnya bukan orang asing.

Ia pernah menjadi produser sebuah program dialog di Metro TV. Pantes Mbak Fenty terlihat akrab juga sama Mbak Nana (panggilan Mbak Nana) dan para produser Mata Najwa saat itu (Mbak Citra, Mas Nurdhian, Mas Cahyadi). Kedekatan itu pula yang nampaknya membuat buku gubahannya terasa mampu menggali hal-hal detil, karena bisa masuk ke momen-momen kecil yang justru punya kisah tersendiri. Saya ingat ketika episode yang menghadirkan wali kota Surabaya Tri Rismaharini, akhirnya diputuskan berdiri sendiri. Sebelumnya, wawancara Risma yang menangis ketika mengisahkan suasana prostitusi, akan digabung dengan wali kota dan bupati dari daerah lain. Kisah ini ternyata turut di kisahkan. Tulisan Mbak Fenty juga menyelipkan rahasia di balik ungkapan para narasumber yang ketika itu diperbincangkan.

Di akhir wawancara dengan Megawati, presiden RI ke-5 ini menangis ketika mengungkapkan cita-citanya: Indonesia Raya. Dalam episode yang sama, Megawati juga terkesan dengan pertanyaan tentang almarhum suaminya, Taufik Kiemas. Bagaimana cara Najwa bertanya? “tidak perlu rumit merumuskan pertanyaan. Dengarkan dengan seksama jawaban narasumber Anda dan galilah hal yang belum terungkap dari jawaban itu.” (hal. 188) Selain kisah dari ruang rapat studio taping Mata Najwa, Mantra Layar Kaca juga menyajikan data dan fakta tentang episode yang pernah diulas.

Secara garis besar, pembaca bisa paham tentang apa yang terjadi dengan kasus bailout Bank Century. Dalam bab lain, kronologi kasus cicak lawan buaya juga dihadirkan. Meski informasi dan tips di atas memberi manfaat tersendiri bagi pembaca (khususnya wartawan), berbagai paparan di dalam buku ini lebih terasa sebagai glorifikasi kesuksesan Mata Najwa. Untungnya, otokritik bagi program yang tayang sejak 2009 ini juga tetap ada (opini Yunarto Wijaya di halaman 315).

Sekarang, buku lain tentang Mata Najwa sudah terbit, judulnya Catatan Najwa. Buku yang terakhir itu isinya rangkaian kalimat pengantar dan penutup dalam setiap episode program yang tayang tiap Rabu malam itu. Tranformasi identitasnya ke berbagai bentuk tadi, nampaknya menunjukkan bahwa Mata Najwa, memang Mantra Layar Kaca. []