Sunday, May 10, 2020

Pemerintahan


Dalam wawancaranya bersama mendikbud Nadiem Makarim, Najwa Shihab mengutip opini menteri luar negeri Singapura Vivian Balakrishnan. Kata Najwa, pandemi covid-19 menguji kualitas sebuah bangsa dalam tiga aspek: layanan kesehatan, pemerintahan, dan modal sosial.
“Ketiganya itu bagaikan tripod. Kalau satu nggak ada, akan timpang. Karena kalau kita lihat poin ketiga—minimal modal sosial—rasa-rasanya malah justru bertambah subur saat ini,” Najwa memancing tanya.
Menteri Nadiem kemudian menganalogikan social capital dengan istilah “kekar”. Katanya, justru nge-gym-nya saat ini. Dalam kesempatan lain, gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga menyemangati warganet dengan foto solidaritas warga menyediakan bahan makanan untuk diambil gratis. Di foto terakhir, Ridwan Kamil bilang: “dari pembatasan sosial kita harus bergeser ke solidaritas sosial.”

Soal modal sosial di atas, memang kita bolehlah optimistis. Toh sebuah pemeringkatan di tahun 2018 menobatkan Indonesia jadi negara paling dermawan. Soal dua lainnya—layanan kesehatan dan pemerintahan—itulah yang ceritanya beda.

***

Bicara tentang aspek pemerintahan dalam menghadapi pandemi, ada beberapa momen yang bikin pusing. Satu, soal pembatasan aktivitas. Pemerintah bingung kondisi mana yang mau diterapkan—apakah itu darurat sipil atau karantina wilayah. Pada akhirnya, diciptakan istilah baru: PSBB. Pemerintah ogah menanggung kewajiban memenuhi kebutuhan warga dan hewan ternak seperti yang tertulis di undang-undang.

Dua, soal aturan mudik. Jubir istana sempat bilang boleh, sorenya diralat sekretaris kabinet. Presiden lalu bedakan istilah mudik dan pulang kampung. Terbaru, menhub sudah kembali bertugas dan bicara lain lagi soal mudik—atau pulang kampung.

Dalam sebuah obrolan news commentary, istri saya bertanya retoris: kok menteri yang aneh-aneh nggak diganti sama presiden? Padahal kan dari kalangan profesional, jadi beban politiknya lebih ringan. Jawaban saya singkat: begitulah watak kekuasaan. Saya lalu bilang bahwa kesan soal kekuasaan itu terhubung ke buku yang baru khatam saya baca: Animal Farm.

***

Animal Farm ditulis tahun 1945 oleh Eric Arthur Blair aliass George Orwell. Ceritanya tentang sebuah peternakan imajiner di Inggris. Para binatang di peternakan itu menggulingkan kekuasaan manusia.
“Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri.” (Hal. 6)
Kalimat di atas disampaikan Major, seekor babi tua yang “siapa pun siap kehilangan waktu tidur satu jam untuk mendengarkan apa yang harus ia katakan”. Setelah mati, Major mewariskan semangat pemberontakan ke babi dan hewan peternakan lain. Sampai akhirnya, peternakan dikuasai para binatang di bawah kendali tiga ekor babi: Napoleon, Snowball dan Squealer.
“Ketiga babi itu telah mengelaborasikan ajaran si tua Major ke dalam suatu sistem pemikiran yang komplet, yang kemudian mereka beri nama Binatangisme.” (Hal. 15)
Animal Farm, ditulis Orwell sebagai kritik atas pemerintahan otoriter di Uni Soviet. Ide kesetaraan yang dipromosikan babi Major, bisa dibaca sebagai perumpamaan sosialisme—yang juga jadi mimpi indah ideologi lain sejenis. Binatangisme—sebagai pengembangan ajaran Major—boleh jadi simbol Marxisme yang dicetuskan Karl Marx. Atau Marxisme-Leninisme yang dijalankan Lenin. Intinya: angan-angan indah ternyata berbuah sengsara.

Setelah babi berkuasa di Animal Farm—sebelumnya bernama Manor Farm—ternyata Boxer si kuda mati di usia pensiun dalam kondisi kepayahan. Ayam-ayam petelur ternyata juga harus terus mengorbankan calon anak mereka. Ayam betina yang mencoba berontak lalu dibantai. Sementara, tujuh aturan yang ditulis dalam binatangisme, terus dimodifikasi buat menguntungkan para babi yang berebut kuasa.
“Ya, sebuah perkelahian hebat tengah berlangsung. Ada teriakan, gebrakan pada meja, pandangan tajam curiga, bentakan marah. Sumber dari masalah itu, tampaknya adalah bahwa Napoleon dan Pak Pilkington masing-masing sama-sama punya kartu as sekop.” (Hal. 140)
Kartu as sekop atau ace of spades yang diceritakan di bagian akhir novel ini, punya pemaknaan menarik. Kartu as sendiri, di masa “Middle English” bermakna “sial”, tapi seiring dijadikan kartu bernilai paling tinggi, maknanya jadi “high-quality, excellence”. 

Ace of Spades juga terkenal sebagai judul sebuah lagu dari band rock legendaris asal Inggris, Motorhead. Kebetulan, baru-baru ini lagu Ace of Spades dirayakan lagi di tahunnya yang ke-40. Tanggal 8 Mei dilafalkan dalam bahasa inggris berbunyi serupa judul lagu itu—the Eight of May. Musiknya disebut-sebut menginspirasi lahirnya variasi lain musik rock semacam trash metal. Sementara, dalam liriknya tertulis:
I don’t share your greed, the only card I need is
The Ace of Spades

The Ace of Spades
Playing for the high one, dancing with the devil
Going with the flow, it’s all a game to me []

No comments:

Post a Comment