Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Friday, April 21, 2023

Pura





 
Dalam kolom Cari Angin yang terbit dalam sebuah edisi Koran Tempo, Putu Setia mengulas tentang toleransi. Ia menulis bahwa pembuatan aturan yang kaku untuk pendirian rumah ibadah justru memunculkan situasi intoleran, karena bias mayoritas.

Dalam esai yang sama, pendeta Hindu bernama Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda  itu menyebut dua pura besar yang didirikan di daerah mayoritas muslim. Pertama, Pura Mandhara Giri Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur. Saya pernah ke sana saat dulu membuat liputan booming wisata pendakian ke gunung Semeru pasca populernya film 5cm.

Pura kedua yang ia sebut sebagai contoh bagus toleransi beragama, ada di kaki gunung Salak, Bogor. Sebagai warga kota hujan, saya merasa harus mengunjungi pura bernama Parahyangan Agung Jagatkartta itu.

Suatu pagi, saya bertolak dari pusat kota setelah solat subuh. Perlu waktu sekitar 45 menit menuju lokasi yang sudah ditandai di aplikasi Google Maps.

Perjalanan menuju titik setinggi 800 meter di atas permukaan laut itu melintasi kondisi jalan yang cukup nyaman untuk dilalui dengan mobil jenis sedan. Ada beberapa jalan rusak, tapi tidak sampai merusak kendaraan jika saat menyetir kita bisa menyesuaikan kecepatan.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar. Untuk masuk, kita perlu memakai kain khusus. "Bisa beli di atas," kata Pak Sugeng, seorang petugas kebersihan.

Pak Sugeng dengan ramah menceritakan tentang kawasan pura. Katanya, dia bisa mengantar saya untuk menjelajahi titik lain di dekat situ.

Saya sebetulnya tertarik dengan ajakan Pak Sugeng untuk menambah dua jam kunjungan demi menjelajahi kawasan Ciapus itu. Sayangnya, saya sedang puasa dan akan butuh minum kalau ikuti ajakannya. Saat saya tanya kontak Pak Sugeng untuk lain kali janjian, dia bilang "nggak punya handphone, nggak bisa mencetnya".

Pada akhirnya, saya duduk-duduk saja di tangga dan pinggiran gerbang masuk sambil berjemur. Sempat pula saya jalan kaki ke arah ujung jalan. Ada tempat wisata Kampoeng Salaka kalau kita terus menerabas jalan.

Setelah puas menikmati suasana, saya bertolak pulang dan pamit ke Pak Sugeng. Katanya, kalau mau diantar ke tempat yang dia janjikan di lain hari, saya cukup datang sekitar jam 10 pagi. Dia janji mau memperlihatkan tempat petilasan Prabu Siliwangi. "Ada lima," katanya meyakinkan. []


Monday, January 8, 2018

Kisah Sukarelawan Gunung Guntur

Sore itu, saya tiba di pos ketiga Gunung Guntur bersama Fajri. Kami sampai di sana setelah mendaki selama sekitar dua jam. Di pos terakhir sebelum puncak gunung itu, tiga orang duduk di depan bangunan berbahan kayu (saung). Terlihat akrab, satu di antara mereka menyapa kami. “Nggak bawa cewek nih?” itulah Dipeng, bercanda ke Fajri. Dipeng ini salah seorang sukarelawan yang tinggal di saung pos tiga. Dia tinggal di sana bersama tiga sampai lima orang lain untuk membantu merawat Gunung Guntur. Saya menyalami mereka satu persatu, pria-pria lajang di usianya yang masih berbilang 20 atau 30 tahunan. Mereka menyebut diri sukarelawan karena sehari-hari, mereka mendata nama pendaki agar tetap aman. Kawanan ini juga menyewakan peralatan mendaki dan menjual oleh-oleh aksesoeris khas Gunung Guntur. Saya pun mengenal mereka lebih dalam melalui sebuah perbincangan di kala malam. Ternyata, kawasan Gunung Guntur dilingkupi sinyal ponsel dan radio. Kami duduk melingkar sambil ngemil kuaci. Beda dengan Fajri, saya baru pertama kali ke Gunung Guntur dan pertama kali pula ketemu mereka. Tapi, kami ngobrol nggak canggung. Mereka memperlakukan saya seperti kawan lama. Suara dialog samar terdengar dari kotak radio di dekat tempat simpan matras. Kata Dipeng, radio itu sumber berita buat mereka, selain internet, terutama twitter. Sinyal sih ada, tapi kata Dipeng, yang paling asik tetep ngobrol sama pendaki. “Cuma aneh, anak gunung sekarang nggak kenal Soe Hok Gie,” Dipeng komplain. Gie yang dia maksud, tentu saja si pendaki gunung sekaligus kritikus rezim Soekarno di masa akhir presidensialnya. Lalu Dipeng nanya, saya udah baca bukunya atau belum. Well, saya terus terang belum tamat baca Catatan Seorang Demonstran, padahal punya bukunya. Saya bilang, sekarang lagi namatin buku Laut Bercerita. Novel karangan Leila S. Chudori itu ceritanya tentang aktivis mahasiswa yang berjuang buat sistem demokrasi di Indonesia. Sayangnya, mereka disiksa sama tentara. Pembicaraan tentang politik menggiring kami ke pembicaraan lain yang mungkin terlalu serius, apalagi radio lagi ada dialog tentang pemilihan gubernur Jawa Barat. Sepengamatan saya, ada dua topik yang biasanya asik dibahas laki-laki. Kalau nggak sepak bola, politik. Setuju nggak? Yang jelas malam itu kami lebih banyak ngomongin politiknya. Dipeng cerita tentang program dialog di radio yang dia langgan. Di setiap episode, warga Garut bisa saling mengomentasi sejumlah isu public. Menariknya, pengambil kebijakan dihadirkan langsung. Salah seorang anggota “geng pos III”, Oded, salah satu yang paling aktif. “apalagi kalo bahas soal penambangan pasir,” kata Dipeng. Oded ini orangnya pendiam. Dia biasa dipanggil Haji. Besok paginya, pas saya masih tidur, ada suara orang baca al quran. Pasti itu Kang Oded. Saya jadi kepikir, kok orang-orang ini milih ada di sini ya? Dipeng pernah cerita, waktu dia lagi pulang ke Sumedang, katanya malah nggak bisa lama-lama di bawah. “begitu ditelpon anak-anak kalo di atas butuh bantuan, langsung naik lagi. Kayak ada ikatan batin, padahal ga ada yang maksa juga,”
***
Cita-cita saya mendaki Gunung Guntur akhirnya kesampaian. Setidaknya, saya sampai di puncak kedua dari lima puncak Guntur. Yang paling berjasa buat kesempatan ini sebenarnya Fajri. Sebelumnya, kami merencanakan naik pas weekend. Tapi, dia punya jadwal lain. Fajri ini—dia menyebut dirinya “Juara Adzan”—sebenarnya sukarelawan juga. Dia pernah tinggal di Gunung Papandayan selama dua bulan. Beberapa hari lalu, dia bahkan baru evakuasi pendaki di Gunung Manglayang. Dan besoknya setelah dari Guntur ini, dia harus ke Pangandaran buat kasih pelatihan penyelamatan diri di alam liar. Begitulah, kisah para sukarelawan menikmati hari mereka. []

Monday, June 5, 2017

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Wednesday, January 4, 2017

Punan Semeriot

Meski semalam tidur larut setelah berpesta ulang tahun sekolah, Aken tetap bangun pagi. Ia sudah ada di pinggir sungai dengan tas barunya yang berisi alat mandi dan alat tulis.Buku tulis itu ia keluarkan. Sebuah pensil berujung tumpul mengiringinya. Tak ada pisau, tidak ada serutan. Satu-satunya pulpen di tangan saya berikan untuknya. Selanjutnya, Rina mengambil alih. Dengan telaten ia mengajari Aken satu per satu menulis huruf dan angka.

Catharina Megawati alias Rina, adalah salah satu pengajar Sekolah Adat Punan Semeriot (SAPS), sebuah sekolah nonformal yang diinisiasi Sri Tiawati, keponakan Rina. Rata-rata seminggu sekali, Sri dan Rina mengajar anak-anak suku Punan Semeriot di kampung halaman mereka. Meski sebenarnya itu tidak mudah. Rina dan Sri tinggal di Desa Kelembunan, Kecamatan Sekatak, Bulungan, Kalimantan Utara. Untuk menuju Sungai Semeriot di Desa Ujang, mereka perlu menempuh perjalanan sekitar lima jam. Perjalanan panjang ini tidak mudah.

Mereka harus menerjang jeram dengan perahu ketinting, sebuah sampan seukuran kano yang maksimal ditumpangi empat orang. Perjuangan menuju Desa Ujang tambah berat jika air sungai sedang surut. Beberapa kali mereka harus turun dari perahu dan menariknya ketika tersangkut bebatuan dasar sungai. Meski tidak mudah, keduanya tak menyerah. Kini, satu tahun sudah Sekolah Adat Punan Semeriot telah beroperasi. Tiga puluhan anak di perkampungan kecil suku Punan Semeriot itu tidak lagi asing dengan pendidikan. Dan Aken, sudah mengenal abjad, angka, dan membaca—meski terbata-bata.

Aken

Aken adalah anak pertama dari lima bersaudara. Enam sebenarnya. Adik pertamanya meninggal karena sakit, entah apa.Tapi saya menduga, penyakit yang membunuh sang adik bukan yang tak bisa disembuhkan. Kesan itu saya dapat setelah mendengar kisah Liana, saudara sepupu Aken. Mereka seusia, sekitar 10 tahunan. Ibunda Liana meninggal karena sakit krungut—demikian Liana menyebutnya. Krungut yang ia maksud adalah cacar.

Mestinya, ibu Liana bisa diselamatkan jika akses pelayanan kesehatan terjangkau. Kenyataannya, di perkampungan berisi 20 rumah itu, fasilitas umumnya cuma gereja. Perkampungan Suku Punan Semeriot sebenarnya berdiri belum lama. Rumah yang saling berhadapan itu tidak mereka tempati setiap hari, karena para Punan Semeriot lebih suka berkelana. Mereka menjelajahi suatu wilayah hutan, lalu berpindah ke hutan bagian lain untuk berburu makanan dan menyambung hidup. Kebiasaan itusekarang mereka hentikan, demi dua alasan.

Pendidikan

Ditipu. Itu salah satu pengalaman pahit Jhonidy Apan ketika sebagai anggota suku Punan Semeriot, ia berinteraksi dengan dunia luar—peradaban yang mengenal uang. Jhoni berkenalan dengan alat tukar itu pada tahun 1991. Senyumnya tersungging ketika mengenang kebingungannya karena mendapat uang kembalian dalam sebuah transaksi. “Saya kasih satu lembar, tapi malah dikasih lagi dua lembar,” ungkapnya. Raut muka serupa juga tampak ketika pria 48 tahun ini mengisahkan kali pertama suku Punan Semeriot mengenakan baju berupa kain. Sebelumnya, mereka memakai kulit kayu talun yang mereka dapat dari meladang di dalam rimba. Hasil meladang itu pula, yang kemudian menjadi bekal suku Punan Semeriot untuk berinteraksi dengan kehidupan kapitalistik.

Kala itu Jhoni menjual kayu gaharu yang ia dapat dari dalam hutan. Dari seseorang yang membelinya di kota, Jhoni mengantongi uang 200 ribu rupiah. Belakangan dia baru tahu, bahwa harga sebenarnya yang pantas ia dapat bisa mencapai 10 juta rupiah. Tak ingin kejadian serupa terulang, pria yang kini menjabat Kepala Lembaga Adat Dayak Punan Kecamatan Sekatak itu, menghentikan kebiasaannya berladang. Tahun 2013, ia dan anggota kelompoknya mendapat bantuan pembangunan rumah dari pemerintah. Sebuah perkampungan kecil pun terbentuk. Jhoni kemudian mengupayakan satu solusi agar anggota suku punan semeriot tak lagi mempan ditipu: pendidikan.

Menghadirkan guru ke perkampungan Punan Semeriot, ternyata bukan perkara gampang. Sebuah ketinting ia siapkan khusus untuk sang pengajar. Gaji pun sudah disiapkan bupati, meski kemudian tak bertahan lama. “Ternyata 6 bulan, jadi guru itu sudah pindah. Nah pindah mungkin bagaimana dia cari yang paling mahal,” Jhoni menjelaskan. Seorang pendeta juga pernah bertugas di kampung Punan Semeriot, dengan sarana yang kurang lebih serupa. “Kami waktu itu siapkan juga susu anaknya, makanannya, jatah-jatahnya, kami siapkan. Dan uang transportasinya, kami kasih. Mutasi lagi,“ papar Jhoni.

Kini, harapan Jhoni agar anak-anak Punan Semeriot berpendidikan, bergantung di pundak Sri dan Rina. Keduanya bergerak sukarela mengajari tiga puluhan anak-anak. Dari menulis, membaca, menjala ikan, hingga belajar gosok gigi. Ilmu adat istiadat juga tak luput diwariskan seorang tetua di sekolah bentukan dua perempuan Punan Kelembunan itu.

Hutan Adat VS Hutan Negara

Alasan kedua yang membuat suku Punan Semeriot berhenti hidup nomaden, adalah perubahan hutan. Sejak 2009, perusahaan pengolahan kayu masuk ke hutan yang biasa dijelajahi para Punan Semeriot. Masalah muncul ketika tidak ada batas antara hutan adat dan hutan yang boleh dikelola perusahaan. Sebenarnya, sudah ada aturan tegas yang membagi peruntukan hutan bagi kedua belah pihak. Pada tahun 2013, Mahkamah Konstitusi menerbitkan Putusan Nomor 35/PUU-X/2012 dalam perkara pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Di dalamnya disebutkan bahwa hutan adat bukan hutan negara, melainkan hutan hak milik masyarakat adat. Artinya, hutan adat akan dibebaskan dari kewenangan negara untuk menjadikannya hutan yang dikelola perusahaan. Dua hari jelang tahun berganti menjadi 2017, presiden mengeluarkan sejumlah wilayah adat dari konsesi perusahaan. Keuntungan serupa itu bisa didapat Punan Semeriot ketika mereka sudah punya batasan wilayah yang jelas. Dan hingga kini, proses pemetaan masih berlangsung.

Jhoni 

Jhoni mengajak saya menembus rerimbunan semak. Di balik tutupan dedaunan, kemudian terkuak jalur untuk pejalan kaki. Tanahnya basah. Beberapa jejak kaki tanpa alas masih tercetak jelas. Itulah jalur yang biasa ditempuhnya untuk meladang ke hutan. Meski sudah punya permukiman permanen, ia dan keluarganya tak bisa setiap saat tinggal menetap. Bersama istri dan anak-anaknya, Jhoni masuk ke hutan hingga satu minggu. “Di mana sungai yang ada ikan, atau di mana gunung yang ada binatang, ya kita tuju itu. Itulah kehidupan punan yang sebenarnya.” Jhoni menutup percakapan. []