Monday, December 26, 2016

Visi Musik Rully Shabara

Sehari sebelum menggelar konser tunggal, Senyawa tampil di kantor Media Group. Di sana mereka membawa lima nomor lama dan baru. Setelah tampil selama sekitar 20 menit, saya langsung mencegat mereka. Pertama-tama, saya hampiri Wukir Suryadi, pemain instrumen di antara duo itu. Terakhir kali kami jumpa beberapa bulan lalu di Jerman. Saya yang sedang bertugas meliput Frankfurt Book Fair, berkunjung ke lokasi pertunjukan Gandari. Di sana, ada Wukir yang juga menonton teater itu dalam rangkaian perjalanan tur musikalnya. Wukir sempat mengundang saya menyaksikan penampilannya di Weltkulturen Museum. Sayangnya ketika itu saya nggak bisa hadir. Nah di momen ketika Senyawa tampil di kantor inilah saya baru sampaikan alasan ketidakhadiran waktu itu. Haha
Saya kemudian berbelok ke sisi lain panggung, menyalami Rully Shabara dan memperkenalkan diri. Inilah kesempatan pertama saya berbincang panjang dengan biduan berjangkauan vokal lebar ini. Obrolan panjang bersama Wukir pernah saya lakukan di Galeri Nasional tahun 2013. Nah tinggal Rully nih yang belum digali. Maka sekaranglah saatnya untuk mendalami visi musikal penyanyi yang juga sumbang suara bagi kelompok rock-eksperimental Zoo.
“Samastamartha keren banget!” saya berseloroh to the point. “Siapa mastermind-nya?” Mata Rully mengerling, lalu menjawab singkat, “siapa lagi?”
Samastamartha yang saya maksud adalah album termutakhir Zoo. Saya memujinya karena album ketika band asal Jogja itu bukan cuma bundelan musik, tapi juga segepok ide. Sebenarnya dua album Zoo lain juga begitu. Hymne Peradaban memulai perjalanan Zoo. Peradaban memang menjadi kata kunci penting. Setelahnya, album Prasasti dirilis dilengkapi dengan Zoografi, sistem abjad yang diciptakan melekat dengan album itu. Lalu hadirlah Samastamartha yang berarti harfiah terdiri dari samastha (sejajar dengan tanah) dan martha (kekal). Meski memang terasa lebih banyak bahasan tentang Zoo, wawancara saya dengan Rully berikut ini juga berisi tentang proyek paduan suara eksperimental, hingga hal personal tentang kehadiran ibunya di sebuah pentas. Simak!
Zoo
Jadi Samastamartha itu referensinya apa aja?
Oh kalo itu kita membagnun ulang peradaban dari pandangan arsitektur. Jadi aku dibantu sama JP studio itu konsultan arsitektur. Aku cuma pengen bangun kota seperti ini, mitologi dan sejarahnya seperti ini. Jadi aku berdiskusi lama, seperti apa sih sebuah kota itu muncul berkembang dan hancur. Jadi aku banyak dikasih masukan.
Aku hanya membangun histori kota itu dengan sejarahnya dan filosofinya. Jadi aku banyak ngambil contoh dari kota-kota yang ada, termasuk Yogyakarta (kota tempat Rully kuliah, hingga bertemu rekan kolaborator musikalnya).
Itu kayaknya metafora ya?
Beringin itu alam. Kalau kita tidak bersinergi dengan alam ya kita ancur tanpa disadari. Setiap lagu kan tentang filosofi sebuah kota berdasarkan arsitektur yang ada di tempat tersebut. Jadi arsitektur aku nggak ngomongin bangunannya tapi landasan moral masyarakat sekitar. Kayak masyarakat sekitar jawa kan borobudur dan candi-candi itu kan banyak pelajaran moral dari situ, jadi panutan masyarakat sekitar.
Yang ke depan memang Zoografi itu ya proyeknya?
Bukan. Zoografi itu salah satu benang merah. Waktu studi bahasa itu kemarin kan (di album sebelumnya). Aku ciptain bahasa itu apa tentang bahasa, abis itu tentang agama, teknologi.
Tahun berapa?
Tahun depan. Sekarang sedang riset tentang itu, agama. Jadi peradaban yang dulu kita bangun itu sekarang ada agamanya. Kemarin ada bahasanya, ada arsitekturnya, sekarang ada agamanya.
Titik awal dari kehancuran dan kebangkitan bangsa itu dari sini dari agama, abis itu teknologi.
Abis teknologi ada migrasi, tata negara, dan sebagainya sampai akhirnya komplit tahun 2025. Tahun 2025 bubar. Selesai.
Ide itu dari mana?
Ya aku ingin membuat proyek yang berlangsung 20 tahun dengan tema yang tidak habis dieksplor dan tema yang sama. Seperti dari awal peradaban sampai akhir. Dari kosong, dari primitif sampai akhirnya maju berkembang dan hancur.
Dan kayaknya keliatannya menyesuaikan dengan kekinian, maksudnya soal agama tadi bahwa itu bisa menghancurkan atau membangkitkan. Karena kan isu agama lagi marak. Itu memang menyesuaikan dengan itu juga?
Nggak. Kebetulan aja, aku udah rancang ini udah dari tahun kapan agama bakal rilis. Kebetulan aja. Tiap tema aku bikin riset dulu lalu ada liriknya, liriknya kemudian musiknya. Setelah ada musiknya baru kita kembangkan lebih lanjutnya. Digali lagi konsep itu.
Paduan Suara Eksperimental
Itu soal Zoo. Teknik suara seperti itu latihannya gimana?
Sedikit demi sedikit.
Aku pengen bisa. Hahaha.
Wah, nggak bisa mendadak. Sedikit-sedikit, pelajarin, secara detil seperti apa bunyi yang keluar dari kita dicari yang nyaman bukan mana yang bisa. Kalau aku begitu. Aku tiga tahun kemarin belum segini banyaknya, nanti tambah lagi tambah lagi.
Kalau di Indonesia ada nggak yang punya skill serupa?
Aku nggak tahu. Mungkin ada. Orang Indonesia talent-nya kan gila-gila, cuma kan bukan masalah skill-nya, (tapi) bagaimana menerapkannya ke visi musikmu. Aku kalau cuman gitu-gitu aja dengan musik seperti itu kan biasa juga. Jadi harus dikemas dengan yang tepat gitu.
Jadi akhirnya tidak seolah-olah konser yang pamer skill. Jadi kan orang menganggap skill-nya membantu membangun emosi dan energinya. Gitu.
Visi tadi yang dimaksud?
Iya, sama kayak Zoo yang bisa sampai 2025 aku bikin.
Senyawa?
Senyawa lain lagi. Senyawa fokusnya adalah mengembangkan potensi yang ada. Jadi di sini aku belajar mengembangkan potensi diri, pribadi, kemampuan, dan dalam hal musik juga.
Kalau nyebut nama, Rully Shabara ini inspirasinya dari siapa aja?
Wah banyak banget mas, banyak sekali. Dari teman-teman, lingkungan, dari musik yang aku dengerin, dari buku.
Aku nonton wawancara Vice, Mas keberatan kalau ini disebut musik tradisional.
Memang bukan tradisional kan. Aku nggak keberatan disebut apa-apa, tapi bukan tradisional kan. Musik tradisional itu punya pakem tertentu yang harus dihormati. Dan kami tidak melakukan itu. Kamu bisa bilang ini musik avant-garde, musik metal, silahkan. Karena ya gitu. Dan bagi itu gak penting itu genre. Genre itu hanya untuk membantu media atau jurnalis musik untuk mempelajarinya aja.
Tapi bagi musisinya sendiri itu malah sangat tidak penting. Malah membatasi mereka kalau ada sebutannya. Kalau ada sebutannya berarti hanya berkecimpung di kotak itu dong. Ya kan.
Aku follow instagram ada semacam kelas vokal gitu. Kayak gimana itu?
Oh itu aku, paduan suara eksperimental. Kamu bisa ikut kalau kapan-kapan kita bikin. Kapan-kapan bisa, di sini bisa. Kalau sekarang ini yang di Indonesia belum ada tapi kalau mau bikin aja. Kamu undang aku ke sini, aku datang.
Bedanya dengan paduan suara biasa?
Kalau paduan suara biasa kamu harus bisa nyanyi. Kalau ini paduan suara eksperimental, kita akan bereksperimen dengan suara apa pun yang ada.
Tujuannya apa?
Tujuannya membantu orang menjadi lebih percaya diri, bisa menggunakan vokalnya, bisa mengapresiasi bunyi. Begitu kalian selesai itu kalian akan “wah, ternyata aku bisa ya. Aku bisa menggunakan vokalku dengan cara begini. Nggak haram kok. Nggak harus merdu”.
Kalau mau bikin minimal berapa orang?
Minimal 10, 20. Aku pernah bikin sampai dengan 100. Nggak ada batasan. Semakin banyak semakin baik. Dua puluh ideal.
Apresiasi Paling Berkesan
Ketika konser di dalam negeri, apresiasi yang paling menyenangkan itu seperti apa?
Menyenangkan main di hadapan orang tua sendiri. Di kampung halaman. Pernah orang tuaku nonton, ibuku nonton.
Jadi perform di Palu sana?
Ya.
Kenapa itu menjadi spesial?
Rasanya kan lain. Bayangkan ibumu nonton kamu dan musiknya gitu.
Komentarnya?
Komentarnya, “nak kenapa kamu buka baju” gitu.
Jawabannya?
...
Di bagian pertanyaan terakhir, Rully tidak menjawab tegas. Gesturnya kikuk. Saya menduga, pembicaraan tentang ibu mungkin terlalu berharga untuk dibagi. Kesan itu semakin kuat ketika pada konser tunggal Senyawa bertajuk Tanah Air—yang beririsan dengan peringatan hari ibu—Rully menyematkan kredit khusus bagi ibundanya. Pertanyaan lebih personal semacam “kenapa tato di perut Rully bertuliskan ‘father’?” urung saya ajukan. Pencarian akar inspirasi visi musikal Rully Sabhara berakhir di sana. Seseorang kemudian menyela perbincangan kami untuk menyerahkan handuk penghapus keringat. “Wah tengkyu Bal. Dikasih ini? Wah, T-O-P-B-G-T.” []

Thursday, August 11, 2016

Klimaks Supernova

Dicicil sejak 2001, serial novel fiksi ilmiah Supernova berakhir lima belas tahun kemudian. Sebuah penutup berjudul Intelijensi Embun Pagi menutup lima seri lainnya: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Akar; Petir; Partikel; dan Gelombang. Intelijensi berisi kelanjutan dari petualangan para tokoh utama di seri sebelumnya sekaligus menjawab pertanyaan tentang identitas mereka.
Serial Supernova diawali dengan pertemuan Reuben dan Dimas. Di dalam seri Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (KPBJ) ,kedua tokoh ini kemudian mengarang novel tentang hubungan asmara seorang eksekutif muda Ferre. Ferre kemudian bertaut suratan dengan seorang model bernama Diva. Dari Diva, Ferre mengetahui sebuah entitas interaktif (semacam media sosial di internet) bernama Supernova. Ketika dirilis, internet belum menjadi sesuatu yang sefamiliar sekarang. Kala itu pula, novel KPBJ unik karena berisi istilah ilmiah dengan banyak sekali catatan kaki—tanpa kehilangan sensasi puitis. Supernova: KPBJ pernah difilmkan, dengan dialog yang juga “puitis”.
Supernova kemudian berlanjut ke Akar (2002). Di dalamnya diceritakan seorang pria yang dibesarkan di biara dan kemudian berkelana mencari kesejatian. Bodhi namanya. Cita-citanya mati, karena dia menyandang sebuah gejala yang baru kemudian disadari di seri terakhir Supernova. Tokoh-tokoh semacam Kell, Ishtar Summer, dan Liong mulai diperkenalkan.
Dua tahun kemudian (2004) Supernova: Petir lahir. Ada seorang keturunan tionghoa yang tinggal sebatang kara di Bandung. Ia menyadari kekuatan elektris setelah bertemu dengan Sati, seorang terapis. Elektra juga membangun sebuah warnet bernama Elektra Pop bersama rekannya yang bernama Toni atau Mpret. Keduanya membentuk komunitas pertemanan yang salah satu di dalamnya ada Bong. Bong inilah yang mempertemukan Elektra dengan Bodhi. Perlahan-lahan, teka-teki Supernova saling melengkapi.
Berjarak delapan tahun (2012) kelanjutan Supernova yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Ketika itu sampul serial terbarunya—Supernova: Partikel—hanya berupa sebuah simbol khusus dengan latar hitam. Mulai dari sana, versi cetakan teranyar Supernova terdahulu berkonsep serupa. Partikel berisi Zarah, seorang anak ilmuwan yang tergila-gila dengan eksplorasi sebuah spesies jamur. Sang ayah pada suatu ketika menghilang. Selama belasan tahun Zarah menjelajahi penjuru dunia untuk sebuah asa: berjumpa lagi dengan ayahnya.
Tahun 2014 kisah Alfa kemudian lahir. Dialah tokoh utama di seri Supernova: Gelombang. Pria batak ini dikutuk tidak bisa tidur. Terlelap baginya berarti mati, karena ketika memasuki alam mimpi, ada sosok yang selalu berusaha membunuh. Dalam petualangannya, Alfa kemudian berjumpa dengan Ishtar Summer, wanita misterius yang muncul sejak seri kedua Supernova.
Intelejensi Embun Pagi kemudian lahir Februari lalu. Novel tebal ini merangkum dan menutup nasib para tokoh di Supernova. Di dalam Intelijensi muncul kembali Gio, seorang petualang yang dalam seri-seri sebelumnya hanya dikisahkan dalam sebagian kecil keping. Keping dalam novel Supernova berarti bab. Jumlahnya sejak seri pertama hingga terakhir ada 99. Intelijensi Embun Pagi, dimulai dari Keping 45.
Intelijensi dibuka dengan kisah Gio. Dari perspektif Gio-lah kemudian kisah bergulir. Tokoh per tokoh dihadirkan kembali. Peran mereka dalam jagad kisah Supernova kemudian diungkap.
Keenam tokoh utama adalah manusia-manusia yang hadir ke dunia dengan misi khusus (hal. 321). Mereka disebut peretas. Para peretas dilindungi infiltran, dan infiltran bermusuhan dengan sarvara. Sumber konflik mereka adalah magnet bumi. Perubahan magnet bumi mengakibatkan pergeseran kutub yang berujung ke evolusi kesadaran manusia—dalam KPBJ istilahnya momen bifurkasi. Perbedaan dalam memandang evolusi kesadaran manusia itulah sumber konflik dua kubu.
“Kalian mengira sedang berbuat kebaikan dengan melepaskan manusia dari samsara, mengatrol kesadaran mereka atas nama evolusi, padahal kisi kamilah yang menciptakan stabilitas.” (hal. 374)
Membaca novel ini, membuat saya teringat seri kisah Michael Scott (penulis serial The Alchemyst: The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel). Dewi Lestari bermain-main dengan pem-fiksi-an sejarah manusia. Misalnya, jika X-Men: Apocalypse menggambarkan bahwa En Sabah Nur-lah dewa segala dewa yang dulu dipuja manusia, maka di Supernova salah seorang peretas dikisahkan sebagai Anshargal, dewa di mitologi mesir kuno (hal. 615).
Bundel setebal lebih dari 700 halaman ini diakhiri dengan sebuah adegan pertarungan. Sebelum suasana haru melapisi ujung kisah seorang tokoh. Sebelum satu tokoh lain merasa nasib akhir yang harus dijalaninya bukan hal luar biasa. Untaian perpisahan itu seturut pula dengan ucapan selamat tinggal bagi pembaca Supernova yang setia menyimak dalam belasan tahun karya itu diproduksi. Meski begitu, kesedihan rasanya bukan kata yang tepat untuk menutup jilid tebal serial Supernova, karena kepala yang membuat mereka ada, nampaknya masih akan terus berkarya. []

Memahami Relasi Media dan Kekuasaan

Saya baru khatam membaca disertasi yang dialihwujudkan ke dalam sebuah bacaan popular. Judulnya Media & Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto. Buku setebal kurang dari 300 halaman ini ditulis Ishadi SK, seorang praktisi media dan jurnalisme yang berjasa mendirikan jaringan Trans Media dan CNN Indonesia. Subjudul buku keluaran Penerbit Buku Kompas ini gamblang membocorkan konten di dalamnya. Karena ini disertasi, maka hal-hal yang dipaparkan di dalamnya tentu tak jauh dari hal-hal saintifik, untuk meyakinkan bahwa saripati gagasannya sahih karena melalui proses yang teruji. Meski begitu, saya nggak terlalu tertarik membaca (dan membahas) hal-hal akademis tadi. Fokus perhatian saya terhadap buku ini ada di gambaran suasana detik-detik menjelang kejatuhan sang penguasa orde baru, dan kaitannya dengan ihwal kebebasan pers di Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto berada di ambang masa jabatannya, Ishadi SK duduk di Kementerian Penerangan, sebagai Dirjen Radio, Televisi dan Film. Dari penggalian fakta dan pemaknaan dari kacamatanya, suasana di balik ruang olah berita (newsroom) didedahkan terbuka. Setelah menjelaskan tentang tinjauan pustaka terhadap newsroom dan produksi di dalamnya dalam dua bab pertama, Ishadi membekali pengalaman pembaca dengan sejarah pendirian stasiun televisi di Indonesia di bab 3. Di bab inilah berbagai konsep pertelevisian diperkenalkan.[1]

Ada televisi pemerintah, televisi swasta dan televisi publik. Televisi pemerintah berarti stasiun atau saluran televisi yang dibiayai negara (penguasa) dan berfungsi mencitrakan pemerintah (tepatnya penguasa). Misalnya TVRI. Jenis kedua adalah televisi yang tunduk ke dalam aturan pasar: televisi swasta didanai pengiklan dengan konten yang sebagian di antaranya menyesuaikan terhadap kebutuhan pendanaan tersebut. Contohnya RCTI, SCTV, Indosiar. Sementara itu kategori terakhir, televisi publik, dipercaya sebagai jenis televisi yang paling ideal. Mesin televisi publik dihidupi iuran pemirsanya, sehingga keberpihakan televisi jenis ini lebih berimbang. Sebagai contoh, di Jerman ada ZDF dan ARD, Kanada punya CBC. Meski tidak menutup total pintu terhadap pengiklan, darah mereka sebagian besar adalah dana iuran pemirsanya. Di Indonesia, jenis televisi itu barangkali contohnya Berita Satu dan CNN Indonesia. Keduanya merupakan kanal berbayar, yang bisa ditonton melalui jaringan TV kabel.

Peran tiga televisi swasta dalam pergantian rezim kekuasaan jadi fokus bahasan buku ini. RCTI, SCTV dan Indosiar, dengan cara masing-masing memakan ibu mereka sendiri: pemerintahan 32 tahun orde baru. Pada mulanya, ketiga pionir stasiun televisi swasta itu diizinkan berdiri untuk menyesuaikan dengan selera pemirsa, seraya menjaga agar fondasi kekuasaan orde baru tetap terjaga. Namun aksi-aksi berani jurnalis di dalamnya berhasil memanaskan tuntutan agar Soeharto turun hingga pada akhirnya rezim kemudian berganti. Kisah-kisah dari ruang newsroom itulah yang paling seru. Bab 4 dan 5 dipenuhi cerita-cerita itu.

Dalam bab berikutnya, Ishadi menganalisa muatan berita yang berisi legitimasi dan delegitimasi kekuasaan orde baru. Maksudnya, sejumlah contoh berita dibandingkan menurut intensi pembuatnya, apakah bertujuan melanggengkan kekuasaan orde baru atau sebaliknya. Di bab terakhir, temuan dan analisa penulis disimpulkan. Ada sejumlah bagian yang saya garisbawahi.
Demikianlah, di era apa pun jurnalis di ruang berita televisi tidak pernah bisa menikmati kemerdekaan secara sepenuhnya. (hal. 253)
Karena itu, jurnalis harus terus meningkatkan visi dan pengetahuannya, serta terus-menerus mengasah hati nuraninya agar dapat terus-menerus memperkuat posisinya berjuang melawan tekanan-tekanan pasar sebagaimana yang dituntut oleh pemilik modal di era market regulations sekarang ini. (hal. 254)
***
[1] Catatan kaki dijabarkan di halaman berbeda. Bagi saya penempatan demikian kurang nyaman karena harus membolak-balik halaman untuk tahu apa yang dijabarkan dalam sebuah penanda. Penjelasan sejumlah catatan betul-betul memperkaya konten utama dan sayang untuk dilewatkan.