Wednesday, June 13, 2018

Sunya


Sekitar seminggu sebelum Aksara lahir, saya dan Windi nonton sebuah film. Judulnya Sunya. Film ini diputar di sebuah bioskop bernama Kinosaurus di kawasan Kemang Jakarta. Untuk masuk ke sana, kita harus melewati toko buku Aksara. Dari situlah ide nama anak kami lahir. Meski di awal saya bicara soal Aksara, tulisan ini bukan tentang dia, melainkan Sunya dan buku berjudul Kumpulan Budak Setan.

Sunya
Film Sunya dibuat oleh sutradara Hary Dagoe Suharyadi. Itu pengalaman pertama saya nonton film sineas yang ternyata sudah buat film sejak lama dan karyanya diputar di festival film internasional. Misalnya film Happy Ending yang tayang di Toronto World Wide Film Festival 1996 di Kanada—dan ditampilkan juga pada momen penayangan Sunya di Kinosaurus waktu itu.
Sunya berkisah tentang seorang pria bernama Bejo, yang mencari tahu penyebab neneknya sulit meninggal dan harus menahan sakit di usia tua. Bejo kemudian menelusuri penyebabnya, dan ternyata berkaitan dengan masa lalu Bejo.
Meski tampak sederhana, alur kisah film ini sebenarnya kompleks. Banyak tampilan simbolik semacam tarian, renungan, hingga adegan panas. Bahkan aktrisnya, mengaku nggak ngerti film itu tentang apa.
"Ini pertama kalinya saya nonton film ini. Sebelumnya deg-degan dengan hasilnya, karena saya aslinya bukan aktris, tapi penari. Tapi setelah menonton, saya malah makin nggak ngerti apa maksud film ini," ujar Astri sambil tertawa malu. (Liputan6.com)
Saya duga, dia nggak baca cerpen yang jadi inspirasi film ini dibuat. Sunya disadur dari salah satu kisah di buku Kumpulan Budak Setan berjudul Jimat Sero buatan Eka Kurniawan. Titel keempat dari 12 cerita di dalam buku itu, punya garis merah serupa. Jika Bejo di Sunya seorang pemuda desa, di Jimat Sero, tokoh utama—yang berkisah dengan subjek “aku”—seorang eksekutif dengan karir cemerlang plus pacar anak bos bernama Raisa.
Selebihnya, rasanya kisah Jimat Sero dan Sunya sama. Rohman menitipkan jimat ke Bejo, lalu jimat itu jadi semacam kunci agar Bejo dan Rohman saling terhubung. Dan itu pula yang terjadi dengan nenek Bejo, kakek Bejo dan ayah Rohman.

Kumpulan Budak Setan
Selain Jimat Sero, kisah-kisah di buku Kumpulan Budak Setan juga menghimpun hasil imajinasi lain Eka Kurniawan. Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad juga bergabung dengan Eka untuk proyek yang diinisiasi tahun 2009 ini. Masing-masing penulis mengarang 4 cerita yang mengandung unsur lendir dan mistik. Dan fiksi-fiksi ini, ode buat Abdullah Harahap. Siapa Abdullah Harahap? Bab pertama buku ini menjelaskannya.
Ia menulis novel horor “picisan”, diramu dengan seks, di tahun 1970-1980-an. Anda dapat menemukan novelnya saat berjalan-jalan di toko buku kecil , pasar loak atau stasiun kereta. Status “picisan” Abdullah Harahap mencerminkan status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khazanah sastra. (Hal. x)
Trio pengarang Kumpulan Budak Setan, terasa punya ciri khas nuansa cerita berbeda. Goyang Penasaran buatan Intan dan Topeng Darah bikinan Ugo, terasa paling vulgar. Istri saya sampai mengernyit ketika dibacakan satu dua kalimat. Sementara Eka, terasa seperti dengan sengaja menempatkan klimaks di akhir cerita. Dan itu seru. []

Monday, June 11, 2018

Lima


Beberapa waktu lalu, Lola Amaria diwawancara di Eagle Awards selama sekitar satu jam. Ia berkisah berbagai hal. Dari tentang visinya berkesenian melalui film, hingga mengutarakan mimpinya berkolaborasi dengan Salahuddin Siregar, seorang sineas dokumenter. Saat ini, hasil kolaborasi itu sudah bisa disaksikan melalui film LIMA.

Film LIMA berkisah tentang drama kehidupan sebuah keluarga di Kota Bandung yang mencerminkan implementasi Pancasila, dasar negara Republik Indonesia. Pengulas film di akun Twitter @djaycoholyc, menganalisa kaitan antarkisah dalam film LIMA, berdasarkan desain poster film:
Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa Lambangnya adalah Bintang. Di #FilmLima dipasang adalah foto Maryam, Ibu dari Fara, Aryo dan Adi. Beliau dipasang di tengah-tengah sebagai core dari film ini. Sama seperti lambang Pancasila. Sila pertama berkaitan erat dengan agama.
Sila-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Gambar Rantai diwakili Bi Ijah, pembantu paling loyal di keluarga Maryam. Dan bi Ijah benar-benar dimanusiakan oleh keluarga ini meski statusnya sebagai pembantu
Sila-3: Persatuan Indonesia Pohon Beringin digambarkan oleh Adi, bontot yang mampu memeprsatukan keluarga dengan cara dia yang kadang tak biasa.
Sila-4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan Ada Fara di situ, Fara itu jago dalam berdebat untuk mendapatkan hasil ideal sesuai kemampuan bukan karena titipan.
Sila-5: Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia Aryo ada di sila ini. Bersikap adil sebagai anak tengah, tidak memihak namun tetap memegang teguh prinsip dia.
Waktu itu saya menonton film LIMA di bioskop Ciwalk. Dalam penayangan jam 21:20 itu, seisi studio cuma ada tiga orang, termasuk saya. Satu orang ternyata nggak datang, karena pas beli tiket saya bisa lihat ada 3 titik berwarna merah di bangku penonton. Menurut akun instagram @film_indonesia, sampai tanggal 10 Juni, LIMA ditonton 78 ribu lebih orang.

Sekadar memberi gambaran, saya coba bandingkan jumlah penonton LIMA dan Dilan 1990. Jika dibandingkan dengan film Dilan 1990—yang menyandang predikat film terbanyak ditonton di tahun 2018—raihan penonton film LIMA sangat sedikit. Dilan yang sudah disaksikan 6 juta lebih orang, di hari ke-10 penayangannya sudah ditonton 3 juta orang. Padahal, film LIMA cukup seru dan penting—bukan berarti Dilan tidak. Selain karena misinya dalam menggambarkan penerapan pancasila tanpa terkesan berceramah, LIMA juga menurut saya cukup artistik.

Alur kisahnya pun tetap berdasar ke kejadian nyata. Ketika nonton film Bulan di Atas Kuburan (2015), saya sangsi dengan realita tentang sopir taksi bernama Sabar yang diperankan Tio Pakusadewo, dibakar massa karena kecelakaan lalu lintas. Siapa sangka, dua tahun setelahnya seorang pria di Bekasi dibakar karena dituduh mencuri. Realita ini pula yang melatari salah satu fragmen kisah Adi di film LIMA.

Meski begitu, perihal kesesuaian dengan realita ini juga dikritisi Leila S. Chudori dalam majalah Tempo edisi 17 Juni 2018. Menurutnya:
“Persoalan tingkah laku anak-anak pembantu juga terselesaikan dengan happy ending yang hampir muskil mengingat berkali-kali rakyat kecil divonis hukuman berat untuk kesalahan yang kecil.” []

Saturday, May 26, 2018

Marx


Tahun 2016 lalu ketika membuat penelusuran berjudul “Gaduh Ideologi”, saya mewawancarai Romo Magnis di kantornya. Dengan malu-malu, saya mengaku bahwa belum membaca Das Kapital untuk mendalami marxisme yang akan kami bincangkan. Saya terkejut karena ia bilang nggak usah.

Pada kesempatan lain, saya sempat mendengar langsung bahwa sastrawan Sapardi Joko Damono berdecak kagum atas isi kepala Marx. Ia salut dengan latar belakang Karl yang bukan siapa-siapa, tapi membuahkan gagasan yang menurutnya brilian.
Bagaimana Marx bisa dikagumi sekaligus disalahkan? Baru-baru ini saya nonton film berjudul Young Karl Marx (2017).

Film ini disusun kronologis, dimulai dari penjabaran kondisi sosial ketika Marx bekerja sebagai wartawan yang kritis terhadap pemerintahan saat itu.

“Pada tahun 1843, eropa dikuasai oleh sistem kerajaan yang berkalang krisis, kelaparan dan resesi ekonomi.”

Marx muda yang masih berusia 25 tahun kemudian ditangkap akibat tulisannya yang dianggap berbahaya bagi kerajaan Prusia. Ia dan istrinya lalu diasingkan ke Perancis pada tahun 1844. Di sana Marx bertemu kolaboratornya: Friedrich Engels. Young Karl Marx menggambarkan suasana pertemuan Marx-Engels yang awalnya canggung. Marx yang terkesan arogan, sempat ragu dengan komitmen perjuangan Engels. Wajar, karena ayah Engels pemilik pabrik: pemilik alat produksi yang memiliki tendensi memeras tenaga buruh.

Dalam sebuah adegan digambarkan bahwa suatu hari Engels dan ayahnya meninjau pabrik miliknya ketika para pegawai protes dengan durasi kerja berlebihan. Seorang pekerja bernama Mary Burns berani mendebat pemilik pabrik. Ketika dia diancam pemecatan dan memancing solidaritas pekerja lain, tidak ada yang mendukung. Di kemudian hari, Mary inilah yang menjadi istri Engels.

Singkat cerita, Marx dan Engels kemudian berkolaborasi. Di kemudian hari, lahirlah manifesto komunisme—yang jadi semangat pemberontakan di sejumlah belahan dunia (di film ini digambarkan dengan cuplikan foto protes, dilatari lagu Bob Dylan berjudul Like a Rolling Stone).

Perjalanan menuju rilisnya deklarasi terbuka tentang paham komunisme, juga digambarkan di film berdurasi 2 jam kurang 2 menit ini. Mulai dari kehadiran Marx di kongres para anarkis di Perancis, hingga pembentukan partai internasional Communist League (yang sebelumnya berupa organisasi pemikir kritis bernama League of the Just atau League of Outlaws). Momen menarik ketika tokoh anarkis Pierre-Joseph Proudhon menghadiahkan buku The Philosophy of Poverty (Filosofi Kemiskinan) juga ditampilkan. Di kemudian hari, Marx menjawab buku itu dengan judul The Poverty of Philosophy (Kemiskinan Filsafat).
Secara visual, film ini sebenarnya membosankan. Meski demikian, setidaknya Young Karl Marx penting bagi pembelajar audio-visual, untuk mengenal sosok yang dinobatkan filsuf paling berpengaruh abad ke-21 ini. Selanjutnya, untuk mengetahui kenapa Romo Magnis dan Pak Sapardi berbeda pendapat, kita harus mendalami buah pikiran Marx. Menurut sosiolog Immanuel Wallerstein,

“Hal pertama yang harus saya katakan kepada anak muda adalah mereka harus membaca-nya. Jangan membaca tentang dia, tetapi baca Marx.”

Anjuran di atas, nampaknya akan sulit diterapkan di Indonesia, karena Tap MPRS nomor 25 tahun 1965 masih berlaku. []