Showing posts with label 15 minutes. Show all posts
Showing posts with label 15 minutes. Show all posts

Monday, March 1, 2021

Ulat

Pagi ini saya sarapan ulat. Ya, Kamu nggak salah baca. Bubur yang ditaburi ulat tepung tepatnya. Saya dapat ulat jenis itu dari peliputan minggu lalu. Tim kami mengulas tentang makanan masa depan. 

Organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) merilis kriteria makanan masa depan. Dalam prediksi yang mereka tulis untuk tahun 2050 ini, para ahli pangan merekomendasikan jenis makanan yang memenuhi prinsip Sustainable Development Goals atau SDGs. Tiga hal sih yang jadi syarat utama: mengentaskan kelaparan, bergizi, dan ramah sosial-ekonomi-lingkungan. Ternyata, ulat tepung alias ulat hongkong atau Tenebrio molitor, nampaknya memenuhi kriteria tadi. 

Pengusaha Ulat 

Saya ngobrol sama Koes Hendra, peternak ulat ini. Koes lulus dari IPB tahun 2019, tapi pengalamannya dalam hal ulat-ulatan bukan sejak dua tahun lalu itu. 
”Kita tuh waktu semester 5, saya juga aktif di kampus. Saya pengen usaha, gimana kita bias usaha tapi tidak menyita banyak waktu. Waktu itukankita di jurusan IPTP sangat padat semester 4, 5 dan 6 nya. Saya juga aktif organisasi. Saya mikir gimana caranya bisnis tanpa menyita banyak waktu, nah caranya adalah budidaya serangga. Waktu itu emang almarhum dekan kita namanya Pak Yamin dia ingin mencetak 10 entrepreneur gitu kan di divisi dia, kan dia baru menjabat waktu itu. Ingin mencetak 10% dari jurusan itu untuk menjadi wirausaha yang mana pada saat kita lulus dari jurusan IPTP itu penyumbang 60% entrepreneur dari IPB, satu jurusan aja.” 
Berbekal semangat kewirausahaan itu, Koes dan kawan-kawannya lalu beternak semut kroto di tahun 2016. Percobaan itu terhenti setelah mereka sadar bahwa serangga yang satu itu sulit diatur. Kata Koes, parameternya terselubung. Pada akhirnya mereka mengembangkan makanan si semut kroto itu: ulat tepung. 

Pernah Rugi

Namanya juga usaha. Kalo gagal, wajar. Dan pengusaha sejati, bangkit dari kegagalan itu. Koes pernah dimodali orang tuanya sebesar 10 juta rupiah untuk bisnis ulat tepung ini—dari alokasi dana pendidikannya hingga level sarjana. Sayang, mitra bisnis mereka kurang kooperatif. 

Keterpurukan itu, membuat Koes dan timnya harus menyesuaikan diri dengan situasi. Mereka sampai harus tidur di kandang. 
"Kita beli waktu itu 9kg ulat, kita pelajari harus bagaimana dan kita tidur di kandang. Sampai sekarang ada ruangan kita itu, jadi bener-bener ruangan kecil kita tinggal bertiga waktu itu. Jadi kita hidup bersama ulat, ulatnya kita taro di kamar kita, di kampus." 
"Ya keterpurukan itu memang susah, karena ya waktu itu kita makan aja bareng-bareng yang penting ada nasi lah ya, sisanya ya disitu kan banyak tumbuh-tumbuhan kemudian ada kolam ikan, ada banyak. Jadi kita merawat kandang itu juga, nanam-nanam juga sembari kita belajar ulat ini. Kurang lebih waktu yang kita butuhkan 1 tahun sampai kita bias produksi massal.” 

Pangan vs Pakan

Tahun 2018, Koes dan kawan-kawan punya 5 unit cabang usaha. Nilai asetnya sekitar 3 milyar rupiah. Ulat tepung yang mereka ternak, diolah jadi abon yang dikemas dalam merk MeFu atau Mealwork Furikake. Dalam peliputan minggu lalu, saya dan tim mempraktikkan proses pengolahannya. Ternyata gampang. Ulat cukup dikeringkan pakai oven, lalu dilumat, dan sisanya tinggal dicampuri beragam bumbu. 

Abon MeFu sampai sekarang dijual di Gerai IPB dan beberapa toko dalam jumlah terbatas. Ide membuat abon dari ulat tepung, datang dari sebuah pesanan dari luar negeri. 
"Tahun 2019 kita kedatangan buyer dari finlandia, dia jauh-jauh datang dari Finlandia ke sini dari Nordic Insect Economy, CEO-nya datang ke sini untuk pesan ulat hongkong ke kita. Waktu itu saya tawarin samplenya, ‘wah ini bagus’, karena emang kita paling bagus daripada produk-produk impor. Karena di China itu ada produk keringnya cuma kualitasnya kurang, mulai dari sisi nutrisi lalu karakteristiknya segala macem itu kurang. Ketika saya tawarkan dengan produk saya nih, ‘bagus nih’, kadar air kita juga di bawah 5% itu udah memenuhi food ekspor kan, untuk kadar air di bawah 5% untuk serangga. Itu yang dimaksudkan kering." 
Pangsa pasar yang ditempati Koes dan perusahaannya, berpotensi tinggi di masa depan. FAO mengingatkan kita bahwa ada lebih dari 1.900 spesies serangga yang bisa dimakan manusia. Sementara, hasil riset Global Market Insights menyitir bahwa nilai ekonomi serangga pangan akan capai 7,4 trilyun rupiah di tahun 2023. 

Antisipasi semacam inilah yang dihadirkan dalam tayangan 15 Minutes yang tim saya kerjakan. Kami mengedukasi penonton tentang adanya potensi makanan masa depan berupa larva kumbang. Selain itu, ada pula beberapa inovasi yang berpotensi memecahkan masalah pemenuhan kebutuhan pangan 10 milyar manusia di tahun 2050. []

Sunday, May 17, 2020

Bumi

Pekan depan program 15 Minutes Metro TV akan menayangkan pembahasan tentang kondisi bumi semasa pandemi covid-19. Idenya berangkat dari fakta bahwa di beberapa bagian planet, situasinya memang positif. Ada rekaman citra udara yang menampilkan membaiknya kualitas udara di atas Italia dan Cina.

Di sisi lain, kondisi itu membuat manusia melihat ulang bagaimana cara kita memperlakukan tempat manusia tinggal. Pembakaran BBM membuat gas karbon dioksida dilepaskan ke udara dan menciptakan efek rumah kaca. Jadi kita seakan-akan sedang ada di dalam rumah kaca. Kepanasan.

Efek rumah kaca juga muncul karena ada kebakaran hutan. KLHK mencatat kebakaran hutan dan lahan periode Januari hingga Maret 2020 mencapai 8.254 hektar. Ini setara dengan lebih dari 15 ribu kali luas lapangan sepak bola. Dan karhutla itu hampir 55% terjadi di lahan gambut yang mudah terbakar tapi sulit dipadamkan.

Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan tingkat pengurangan hutan terbesar. Sebesar 74 juta hektar hutan atau seukuran dua kali wilayah jepang, berkurang dalam waktu 50 tahun terakhir. Untungnya, sejak 2011 pemerintah sudah memberlakukan moratorium atau penghentian pembukaan hutan seluas 69 juta hektar.

Selain bahan bakar fosil, kebakaran lahan, dan penebangan hutan, satu lagi sumber polusi udara yang mungkin tidak kita duga. Sisa makanan yang berakhir di tempat pembuangan akhir sampah, akan menghasilkan gas metana—salah satu gas penghasil efek rumah kaca.

Our Planet

Sebelum hari ini, saya menulis tentang beberapa film produksi Netflix yang bisa ditonton bebas di YouTube. Salah satunya, Our Planet. Sesi narasi serial ini diisi wartawan/ naturalis legendaris David Atteborough.

Secara visual, gambarnya memanjakan mata. Musiknya juga selaras dengan adegan dan pesan yang disajikan: menjaga keragaman hayati di planet bumi.

Hari-hari ini, Netflix memang jadi contoh sukses paralelnya kualitas dan popularitas. Sebuah laporan mencatat, dalam 3 bulan terakhir ada 16 juta pelanggan tambahan platform penyedia film itu—termasuk saya.

Saking banyaknya katalog bagus dalam Netflix, saya menyimpan banyak judul juga di halaman My List. Katanya, rival bisnis Netflix sekarang bukan lagi layanan Over The Top (OTT) lain semacam HBO GO, GoPlay atau semacamnya. Musuh mereka: tidur. Barangkali tidak sedikit dari kita yang rela begadang demi nonton marathon (binge-watching).

Karena punya akses ke Netflix—numpang ke istri saya yang lagi suka nonton serial The King—saya jadi kepikir juga buat namatin semua tayangan di dalam My List. Untungnya saya masih sadar.

Bagi Netflix, saya dan pengguna lain paling-paling cuma angka—bagian dari 18 juta yang membanggakan di atas. Bagi saya, Netflix cuma alat buat menikmati kekayaan hidup—di waktu senggang. Melalui cerita fiksi. Lewat dokumenter. Sehingga mempengaruhi aksi saya di kehidupan sehari-hari. Rencananya sih begitu. Hehe. []

Tuesday, May 5, 2020

Mudik

Kemarin pagi, sewaktu isi bahan bakar motor, saya disapa seseorang berbahasa sunda. Dia bertanya tentang daerah asal saya setelah mendapati huruf yang sama di pelat nomor kendaraan kami. Ternyata saya dan dia dari satu kabupaten, satu kecamatan pula.

Meski tidak mengenal sampai tahap bertukar nama, kami berbagi kisah tentang rencana pulang kampung, yang sama-sama batal. Sampai sesi itu, kami berpisah.

***

Barangkali baru kali ini krisis kesehatan begitu berdampak secara global sejak awal abad ke-20. Banyak orang tidak mengantisipasi ketika akhir tahun lalu sebuah “penyakit semacam pneumonia” dilaporkan muncul di Tiongkok. Kita tidak menyangka bahwa sindrom yang kini bernama Covid-19 ini berpengaruh luas. Dalam hal ini, terhadap tradisi mudik.

Sejarawan punya pandangan berbeda tentang muasal kata “mudik”. Ada yang bilang itu kependekan dari frasa “mulih ke udik” yang berarti “pulang kampung”. Dengan pemaknaan yang sama, ada pula yang menelusuri bahwa kata itu datang dari Bahasa Melayu.
“Makanya ada istilah hilir-mudik,”
Demikian Asep Kambali menjelaskan. Hari Rabu besok, wawancara Asep akan tayang dalam program yang saya kerjakan: 15 Minutes Metro TV. Selain soal akar kata mudik, Asep juga menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak masa kerajaan.

Sejarawan lain sempat mengingatkan bahwa klaim bahwa “mudik terjadi di masa kerajaan” perlu lebih didalami melalui riset akademis. Meski demikian, Asep bulat berkata bahwa memang mudik ada sejak lama.
“Ketika Jayakarta dibangun, buruh didatangkan dari daerah Jawa. Begitu pula saat Batavia dibangun oleh pasukan yang dipimpin Souw Beng Kong untuk membuat kota yang dirancang Simon Melvin,”
Seiring waktu berlalu, tradisi mudik terus berlaku. Sebuah foto memperlihatkan momen ketika Bung Karno dan Bu Fat sungkem di hadapan Ida Ayu Nyoman Rai. Itu tahun 1946. Di tahun 1962 dan 1963, warga Jakarta diminta menunda tradisi ini. Musababnya, biar warga Jakarta tetap siaga demi merebut Irian Barat. Ibu kota jangan sampai kosong di masa pertempuran bersenjata itu.

Kini, pantangan serupa disuarakan, bahkan bukan cuma di Jakarta. Kecamatan tempat orang tua saya tinggal pun kena aturan PSBB. Artinya pemudik dilarang keluar-masuk. Yang boleh melintas cuma urusan kelangsungan hidup primer. Masalahnya, pelanggar aturan masih saja ada.

Jurnalis senior Usman Kansong kemudian menyampaikan pandangannya. Bahwa sebetulnya, dengan pemahaman bahwa mudarat lebih besar dari manfaat pulang kampung, mustinya pemudik urung balik. Kalau itu tidak mempan, mereka harus sadar bahwa tradisi ini urusan hati atau perasaan. Logika harus dikedepankan untuk penyeimbang.
“Virus ini urusan logika, jadi harus dilawan secara logis.”
Usman juga memberi saran bagi pengambil kebijakan. Menurutnya, kondisi pandemi saat ini dilematis. Ketika orang hendak didenda karena melanggar PSBB, ekonomi lagi lesu. Kalau dipenjara, justru para tahanan dibebaskan. Maka yang terpenting: pencegahan pelanggaran hukum lebih baik dibanding penindakan terhadapnya.

Itu dari sudut pandang pemerintah. Dari sisi kita yang warga biasa (dengan aksesibilitas teknologi), lebih baik ikuti trik yang secara spontan dilontarkan presenter 15 Minutes Wahyu Wiwoho:
“Sungkem virtual. Angpao-nya juga transfer aja.” []