Sejak tahun 2013, saya bertugas sebagai reporter di program Mata Najwa Metro TV. Episode pertama yang ada kerja saya di dalamnya, adalah tayangan berjudul “Rindu Daripada Soeharto”. Setelah itu, selama sekitar 14 bulan saya belajar di program yang dimotori Najwa Shihab itu. Tahun 2013, Mata Najwa sedang gencar memulai lagi format talk show yang digelar di kampus-kampus: Mata Najwa On Stage.
Saya pertama kali bertugas di tahap ini, ketika MOS digelar di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 14 Desember 2013. Kala itu saya jumpa dengan seseorang berkacamata bundar dan rambut pendek. Belakangan kami berkenalan. Ternyata ia Fenty Effendy, yang dua tahun kemudian menerbitkan buku tentang Mata Najwa bejudul Mantra Layar Kaca. Mbak Fenty—demikian saya kemudian menyapanya—sebenarnya bukan orang asing.
Ia pernah menjadi produser sebuah program dialog di Metro TV. Pantes Mbak Fenty terlihat akrab juga sama Mbak Nana (panggilan Mbak Nana) dan para produser Mata Najwa saat itu (Mbak Citra, Mas Nurdhian, Mas Cahyadi). Kedekatan itu pula yang nampaknya membuat buku gubahannya terasa mampu menggali hal-hal detil, karena bisa masuk ke momen-momen kecil yang justru punya kisah tersendiri. Saya ingat ketika episode yang menghadirkan wali kota Surabaya Tri Rismaharini, akhirnya diputuskan berdiri sendiri. Sebelumnya, wawancara Risma yang menangis ketika mengisahkan suasana prostitusi, akan digabung dengan wali kota dan bupati dari daerah lain. Kisah ini ternyata turut di kisahkan. Tulisan Mbak Fenty juga menyelipkan rahasia di balik ungkapan para narasumber yang ketika itu diperbincangkan.
Di akhir wawancara dengan Megawati, presiden RI ke-5 ini menangis ketika mengungkapkan cita-citanya: Indonesia Raya. Dalam episode yang sama, Megawati juga terkesan dengan pertanyaan tentang almarhum suaminya, Taufik Kiemas. Bagaimana cara Najwa bertanya? “tidak perlu rumit merumuskan pertanyaan. Dengarkan dengan seksama jawaban narasumber Anda dan galilah hal yang belum terungkap dari jawaban itu.” (hal. 188) Selain kisah dari ruang rapat studio taping Mata Najwa, Mantra Layar Kaca juga menyajikan data dan fakta tentang episode yang pernah diulas.
Secara garis besar, pembaca bisa paham tentang apa yang terjadi dengan kasus bailout Bank Century. Dalam bab lain, kronologi kasus cicak lawan buaya juga dihadirkan. Meski informasi dan tips di atas memberi manfaat tersendiri bagi pembaca (khususnya wartawan), berbagai paparan di dalam buku ini lebih terasa sebagai glorifikasi kesuksesan Mata Najwa. Untungnya, otokritik bagi program yang tayang sejak 2009 ini juga tetap ada (opini Yunarto Wijaya di halaman 315).
Sekarang, buku lain tentang Mata Najwa sudah terbit, judulnya Catatan Najwa. Buku yang terakhir itu isinya rangkaian kalimat pengantar dan penutup dalam setiap episode program yang tayang tiap Rabu malam itu. Tranformasi identitasnya ke berbagai bentuk tadi, nampaknya menunjukkan bahwa Mata Najwa, memang Mantra Layar Kaca. []
Sunday, January 8, 2017
Wednesday, January 4, 2017
Punan Semeriot
Meski semalam tidur larut setelah berpesta ulang tahun sekolah, Aken tetap bangun pagi. Ia sudah ada di pinggir sungai dengan tas barunya yang berisi alat mandi dan alat tulis.Buku tulis itu ia keluarkan. Sebuah pensil berujung tumpul mengiringinya. Tak ada pisau, tidak ada serutan. Satu-satunya pulpen di tangan saya berikan untuknya. Selanjutnya, Rina mengambil alih. Dengan telaten ia mengajari Aken satu per satu menulis huruf dan angka.
Catharina Megawati alias Rina, adalah salah satu pengajar Sekolah Adat Punan Semeriot (SAPS), sebuah sekolah nonformal yang diinisiasi Sri Tiawati, keponakan Rina. Rata-rata seminggu sekali, Sri dan Rina mengajar anak-anak suku Punan Semeriot di kampung halaman mereka. Meski sebenarnya itu tidak mudah. Rina dan Sri tinggal di Desa Kelembunan, Kecamatan Sekatak, Bulungan, Kalimantan Utara. Untuk menuju Sungai Semeriot di Desa Ujang, mereka perlu menempuh perjalanan sekitar lima jam. Perjalanan panjang ini tidak mudah.
Mereka harus menerjang jeram dengan perahu ketinting, sebuah sampan seukuran kano yang maksimal ditumpangi empat orang. Perjuangan menuju Desa Ujang tambah berat jika air sungai sedang surut. Beberapa kali mereka harus turun dari perahu dan menariknya ketika tersangkut bebatuan dasar sungai. Meski tidak mudah, keduanya tak menyerah. Kini, satu tahun sudah Sekolah Adat Punan Semeriot telah beroperasi. Tiga puluhan anak di perkampungan kecil suku Punan Semeriot itu tidak lagi asing dengan pendidikan. Dan Aken, sudah mengenal abjad, angka, dan membaca—meski terbata-bata.
Aken
Aken adalah anak pertama dari lima bersaudara. Enam sebenarnya. Adik pertamanya meninggal karena sakit, entah apa.Tapi saya menduga, penyakit yang membunuh sang adik bukan yang tak bisa disembuhkan. Kesan itu saya dapat setelah mendengar kisah Liana, saudara sepupu Aken. Mereka seusia, sekitar 10 tahunan. Ibunda Liana meninggal karena sakit krungut—demikian Liana menyebutnya. Krungut yang ia maksud adalah cacar.
Mestinya, ibu Liana bisa diselamatkan jika akses pelayanan kesehatan terjangkau. Kenyataannya, di perkampungan berisi 20 rumah itu, fasilitas umumnya cuma gereja. Perkampungan Suku Punan Semeriot sebenarnya berdiri belum lama. Rumah yang saling berhadapan itu tidak mereka tempati setiap hari, karena para Punan Semeriot lebih suka berkelana. Mereka menjelajahi suatu wilayah hutan, lalu berpindah ke hutan bagian lain untuk berburu makanan dan menyambung hidup. Kebiasaan itusekarang mereka hentikan, demi dua alasan.
Pendidikan
Ditipu. Itu salah satu pengalaman pahit Jhonidy Apan ketika sebagai anggota suku Punan Semeriot, ia berinteraksi dengan dunia luar—peradaban yang mengenal uang. Jhoni berkenalan dengan alat tukar itu pada tahun 1991. Senyumnya tersungging ketika mengenang kebingungannya karena mendapat uang kembalian dalam sebuah transaksi. “Saya kasih satu lembar, tapi malah dikasih lagi dua lembar,” ungkapnya. Raut muka serupa juga tampak ketika pria 48 tahun ini mengisahkan kali pertama suku Punan Semeriot mengenakan baju berupa kain. Sebelumnya, mereka memakai kulit kayu talun yang mereka dapat dari meladang di dalam rimba. Hasil meladang itu pula, yang kemudian menjadi bekal suku Punan Semeriot untuk berinteraksi dengan kehidupan kapitalistik.
Kala itu Jhoni menjual kayu gaharu yang ia dapat dari dalam hutan. Dari seseorang yang membelinya di kota, Jhoni mengantongi uang 200 ribu rupiah. Belakangan dia baru tahu, bahwa harga sebenarnya yang pantas ia dapat bisa mencapai 10 juta rupiah. Tak ingin kejadian serupa terulang, pria yang kini menjabat Kepala Lembaga Adat Dayak Punan Kecamatan Sekatak itu, menghentikan kebiasaannya berladang. Tahun 2013, ia dan anggota kelompoknya mendapat bantuan pembangunan rumah dari pemerintah. Sebuah perkampungan kecil pun terbentuk. Jhoni kemudian mengupayakan satu solusi agar anggota suku punan semeriot tak lagi mempan ditipu: pendidikan.
Menghadirkan guru ke perkampungan Punan Semeriot, ternyata bukan perkara gampang. Sebuah ketinting ia siapkan khusus untuk sang pengajar. Gaji pun sudah disiapkan bupati, meski kemudian tak bertahan lama. “Ternyata 6 bulan, jadi guru itu sudah pindah. Nah pindah mungkin bagaimana dia cari yang paling mahal,” Jhoni menjelaskan. Seorang pendeta juga pernah bertugas di kampung Punan Semeriot, dengan sarana yang kurang lebih serupa. “Kami waktu itu siapkan juga susu anaknya, makanannya, jatah-jatahnya, kami siapkan. Dan uang transportasinya, kami kasih. Mutasi lagi,“ papar Jhoni.
Kini, harapan Jhoni agar anak-anak Punan Semeriot berpendidikan, bergantung di pundak Sri dan Rina. Keduanya bergerak sukarela mengajari tiga puluhan anak-anak. Dari menulis, membaca, menjala ikan, hingga belajar gosok gigi. Ilmu adat istiadat juga tak luput diwariskan seorang tetua di sekolah bentukan dua perempuan Punan Kelembunan itu.
Hutan Adat VS Hutan Negara
Alasan kedua yang membuat suku Punan Semeriot berhenti hidup nomaden, adalah perubahan hutan. Sejak 2009, perusahaan pengolahan kayu masuk ke hutan yang biasa dijelajahi para Punan Semeriot. Masalah muncul ketika tidak ada batas antara hutan adat dan hutan yang boleh dikelola perusahaan. Sebenarnya, sudah ada aturan tegas yang membagi peruntukan hutan bagi kedua belah pihak. Pada tahun 2013, Mahkamah Konstitusi menerbitkan Putusan Nomor 35/PUU-X/2012 dalam perkara pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Di dalamnya disebutkan bahwa hutan adat bukan hutan negara, melainkan hutan hak milik masyarakat adat. Artinya, hutan adat akan dibebaskan dari kewenangan negara untuk menjadikannya hutan yang dikelola perusahaan. Dua hari jelang tahun berganti menjadi 2017, presiden mengeluarkan sejumlah wilayah adat dari konsesi perusahaan. Keuntungan serupa itu bisa didapat Punan Semeriot ketika mereka sudah punya batasan wilayah yang jelas. Dan hingga kini, proses pemetaan masih berlangsung.
Jhoni
Jhoni mengajak saya menembus rerimbunan semak. Di balik tutupan dedaunan, kemudian terkuak jalur untuk pejalan kaki. Tanahnya basah. Beberapa jejak kaki tanpa alas masih tercetak jelas. Itulah jalur yang biasa ditempuhnya untuk meladang ke hutan. Meski sudah punya permukiman permanen, ia dan keluarganya tak bisa setiap saat tinggal menetap. Bersama istri dan anak-anaknya, Jhoni masuk ke hutan hingga satu minggu. “Di mana sungai yang ada ikan, atau di mana gunung yang ada binatang, ya kita tuju itu. Itulah kehidupan punan yang sebenarnya.” Jhoni menutup percakapan. []
Catharina Megawati alias Rina, adalah salah satu pengajar Sekolah Adat Punan Semeriot (SAPS), sebuah sekolah nonformal yang diinisiasi Sri Tiawati, keponakan Rina. Rata-rata seminggu sekali, Sri dan Rina mengajar anak-anak suku Punan Semeriot di kampung halaman mereka. Meski sebenarnya itu tidak mudah. Rina dan Sri tinggal di Desa Kelembunan, Kecamatan Sekatak, Bulungan, Kalimantan Utara. Untuk menuju Sungai Semeriot di Desa Ujang, mereka perlu menempuh perjalanan sekitar lima jam. Perjalanan panjang ini tidak mudah.
Mereka harus menerjang jeram dengan perahu ketinting, sebuah sampan seukuran kano yang maksimal ditumpangi empat orang. Perjuangan menuju Desa Ujang tambah berat jika air sungai sedang surut. Beberapa kali mereka harus turun dari perahu dan menariknya ketika tersangkut bebatuan dasar sungai. Meski tidak mudah, keduanya tak menyerah. Kini, satu tahun sudah Sekolah Adat Punan Semeriot telah beroperasi. Tiga puluhan anak di perkampungan kecil suku Punan Semeriot itu tidak lagi asing dengan pendidikan. Dan Aken, sudah mengenal abjad, angka, dan membaca—meski terbata-bata.
Aken
Aken adalah anak pertama dari lima bersaudara. Enam sebenarnya. Adik pertamanya meninggal karena sakit, entah apa.Tapi saya menduga, penyakit yang membunuh sang adik bukan yang tak bisa disembuhkan. Kesan itu saya dapat setelah mendengar kisah Liana, saudara sepupu Aken. Mereka seusia, sekitar 10 tahunan. Ibunda Liana meninggal karena sakit krungut—demikian Liana menyebutnya. Krungut yang ia maksud adalah cacar.
Mestinya, ibu Liana bisa diselamatkan jika akses pelayanan kesehatan terjangkau. Kenyataannya, di perkampungan berisi 20 rumah itu, fasilitas umumnya cuma gereja. Perkampungan Suku Punan Semeriot sebenarnya berdiri belum lama. Rumah yang saling berhadapan itu tidak mereka tempati setiap hari, karena para Punan Semeriot lebih suka berkelana. Mereka menjelajahi suatu wilayah hutan, lalu berpindah ke hutan bagian lain untuk berburu makanan dan menyambung hidup. Kebiasaan itusekarang mereka hentikan, demi dua alasan.
Pendidikan
Ditipu. Itu salah satu pengalaman pahit Jhonidy Apan ketika sebagai anggota suku Punan Semeriot, ia berinteraksi dengan dunia luar—peradaban yang mengenal uang. Jhoni berkenalan dengan alat tukar itu pada tahun 1991. Senyumnya tersungging ketika mengenang kebingungannya karena mendapat uang kembalian dalam sebuah transaksi. “Saya kasih satu lembar, tapi malah dikasih lagi dua lembar,” ungkapnya. Raut muka serupa juga tampak ketika pria 48 tahun ini mengisahkan kali pertama suku Punan Semeriot mengenakan baju berupa kain. Sebelumnya, mereka memakai kulit kayu talun yang mereka dapat dari meladang di dalam rimba. Hasil meladang itu pula, yang kemudian menjadi bekal suku Punan Semeriot untuk berinteraksi dengan kehidupan kapitalistik.
Kala itu Jhoni menjual kayu gaharu yang ia dapat dari dalam hutan. Dari seseorang yang membelinya di kota, Jhoni mengantongi uang 200 ribu rupiah. Belakangan dia baru tahu, bahwa harga sebenarnya yang pantas ia dapat bisa mencapai 10 juta rupiah. Tak ingin kejadian serupa terulang, pria yang kini menjabat Kepala Lembaga Adat Dayak Punan Kecamatan Sekatak itu, menghentikan kebiasaannya berladang. Tahun 2013, ia dan anggota kelompoknya mendapat bantuan pembangunan rumah dari pemerintah. Sebuah perkampungan kecil pun terbentuk. Jhoni kemudian mengupayakan satu solusi agar anggota suku punan semeriot tak lagi mempan ditipu: pendidikan.
Menghadirkan guru ke perkampungan Punan Semeriot, ternyata bukan perkara gampang. Sebuah ketinting ia siapkan khusus untuk sang pengajar. Gaji pun sudah disiapkan bupati, meski kemudian tak bertahan lama. “Ternyata 6 bulan, jadi guru itu sudah pindah. Nah pindah mungkin bagaimana dia cari yang paling mahal,” Jhoni menjelaskan. Seorang pendeta juga pernah bertugas di kampung Punan Semeriot, dengan sarana yang kurang lebih serupa. “Kami waktu itu siapkan juga susu anaknya, makanannya, jatah-jatahnya, kami siapkan. Dan uang transportasinya, kami kasih. Mutasi lagi,“ papar Jhoni.
Kini, harapan Jhoni agar anak-anak Punan Semeriot berpendidikan, bergantung di pundak Sri dan Rina. Keduanya bergerak sukarela mengajari tiga puluhan anak-anak. Dari menulis, membaca, menjala ikan, hingga belajar gosok gigi. Ilmu adat istiadat juga tak luput diwariskan seorang tetua di sekolah bentukan dua perempuan Punan Kelembunan itu.
Hutan Adat VS Hutan Negara
Alasan kedua yang membuat suku Punan Semeriot berhenti hidup nomaden, adalah perubahan hutan. Sejak 2009, perusahaan pengolahan kayu masuk ke hutan yang biasa dijelajahi para Punan Semeriot. Masalah muncul ketika tidak ada batas antara hutan adat dan hutan yang boleh dikelola perusahaan. Sebenarnya, sudah ada aturan tegas yang membagi peruntukan hutan bagi kedua belah pihak. Pada tahun 2013, Mahkamah Konstitusi menerbitkan Putusan Nomor 35/PUU-X/2012 dalam perkara pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Di dalamnya disebutkan bahwa hutan adat bukan hutan negara, melainkan hutan hak milik masyarakat adat. Artinya, hutan adat akan dibebaskan dari kewenangan negara untuk menjadikannya hutan yang dikelola perusahaan. Dua hari jelang tahun berganti menjadi 2017, presiden mengeluarkan sejumlah wilayah adat dari konsesi perusahaan. Keuntungan serupa itu bisa didapat Punan Semeriot ketika mereka sudah punya batasan wilayah yang jelas. Dan hingga kini, proses pemetaan masih berlangsung.
Jhoni
Jhoni mengajak saya menembus rerimbunan semak. Di balik tutupan dedaunan, kemudian terkuak jalur untuk pejalan kaki. Tanahnya basah. Beberapa jejak kaki tanpa alas masih tercetak jelas. Itulah jalur yang biasa ditempuhnya untuk meladang ke hutan. Meski sudah punya permukiman permanen, ia dan keluarganya tak bisa setiap saat tinggal menetap. Bersama istri dan anak-anaknya, Jhoni masuk ke hutan hingga satu minggu. “Di mana sungai yang ada ikan, atau di mana gunung yang ada binatang, ya kita tuju itu. Itulah kehidupan punan yang sebenarnya.” Jhoni menutup percakapan. []
Monday, December 26, 2016
Visi Musik Rully Shabara
Sehari sebelum menggelar konser tunggal, Senyawa tampil di kantor Media Group. Di sana mereka membawa lima nomor lama dan baru. Setelah tampil selama sekitar 20 menit, saya langsung mencegat mereka. Pertama-tama, saya hampiri Wukir Suryadi, pemain instrumen di antara duo itu. Terakhir kali kami jumpa beberapa bulan lalu di Jerman. Saya yang sedang bertugas meliput Frankfurt Book Fair, berkunjung ke lokasi pertunjukan Gandari. Di sana, ada Wukir yang juga menonton teater itu dalam rangkaian perjalanan tur musikalnya. Wukir sempat mengundang saya menyaksikan penampilannya di Weltkulturen Museum. Sayangnya ketika itu saya nggak bisa hadir. Nah di momen ketika Senyawa tampil di kantor inilah saya baru sampaikan alasan ketidakhadiran waktu itu. Haha
Saya kemudian berbelok ke sisi lain panggung, menyalami Rully Shabara dan memperkenalkan diri. Inilah kesempatan pertama saya berbincang panjang dengan biduan berjangkauan vokal lebar ini. Obrolan panjang bersama Wukir pernah saya lakukan di Galeri Nasional tahun 2013. Nah tinggal Rully nih yang belum digali. Maka sekaranglah saatnya untuk mendalami visi musikal penyanyi yang juga sumbang suara bagi kelompok rock-eksperimental Zoo.
“Samastamartha keren banget!” saya berseloroh to the point. “Siapa mastermind-nya?” Mata Rully mengerling, lalu menjawab singkat, “siapa lagi?”
Samastamartha yang saya maksud adalah album termutakhir Zoo. Saya memujinya karena album ketika band asal Jogja itu bukan cuma bundelan musik, tapi juga segepok ide. Sebenarnya dua album Zoo lain juga begitu. Hymne Peradaban memulai perjalanan Zoo. Peradaban memang menjadi kata kunci penting. Setelahnya, album Prasasti dirilis dilengkapi dengan Zoografi, sistem abjad yang diciptakan melekat dengan album itu. Lalu hadirlah Samastamartha yang berarti harfiah terdiri dari samastha (sejajar dengan tanah) dan martha (kekal). Meski memang terasa lebih banyak bahasan tentang Zoo, wawancara saya dengan Rully berikut ini juga berisi tentang proyek paduan suara eksperimental, hingga hal personal tentang kehadiran ibunya di sebuah pentas. Simak!
Zoo
Jadi Samastamartha itu referensinya apa aja?
Oh kalo itu kita membagnun ulang peradaban dari pandangan arsitektur. Jadi aku dibantu sama JP studio itu konsultan arsitektur. Aku cuma pengen bangun kota seperti ini, mitologi dan sejarahnya seperti ini. Jadi aku berdiskusi lama, seperti apa sih sebuah kota itu muncul berkembang dan hancur. Jadi aku banyak dikasih masukan.
Aku hanya membangun histori kota itu dengan sejarahnya dan filosofinya. Jadi aku banyak ngambil contoh dari kota-kota yang ada, termasuk Yogyakarta (kota tempat Rully kuliah, hingga bertemu rekan kolaborator musikalnya).
Itu kayaknya metafora ya?
Beringin itu alam. Kalau kita tidak bersinergi dengan alam ya kita ancur tanpa disadari. Setiap lagu kan tentang filosofi sebuah kota berdasarkan arsitektur yang ada di tempat tersebut. Jadi arsitektur aku nggak ngomongin bangunannya tapi landasan moral masyarakat sekitar. Kayak masyarakat sekitar jawa kan borobudur dan candi-candi itu kan banyak pelajaran moral dari situ, jadi panutan masyarakat sekitar.
Yang ke depan memang Zoografi itu ya proyeknya?
Bukan. Zoografi itu salah satu benang merah. Waktu studi bahasa itu kemarin kan (di album sebelumnya). Aku ciptain bahasa itu apa tentang bahasa, abis itu tentang agama, teknologi.
Tahun berapa?
Tahun depan. Sekarang sedang riset tentang itu, agama. Jadi peradaban yang dulu kita bangun itu sekarang ada agamanya. Kemarin ada bahasanya, ada arsitekturnya, sekarang ada agamanya.
Titik awal dari kehancuran dan kebangkitan bangsa itu dari sini dari agama, abis itu teknologi.
Abis teknologi ada migrasi, tata negara, dan sebagainya sampai akhirnya komplit tahun 2025. Tahun 2025 bubar. Selesai.
Ide itu dari mana?
Ya aku ingin membuat proyek yang berlangsung 20 tahun dengan tema yang tidak habis dieksplor dan tema yang sama. Seperti dari awal peradaban sampai akhir. Dari kosong, dari primitif sampai akhirnya maju berkembang dan hancur.
Dan kayaknya keliatannya menyesuaikan dengan kekinian, maksudnya soal agama tadi bahwa itu bisa menghancurkan atau membangkitkan. Karena kan isu agama lagi marak. Itu memang menyesuaikan dengan itu juga?
Nggak. Kebetulan aja, aku udah rancang ini udah dari tahun kapan agama bakal rilis. Kebetulan aja. Tiap tema aku bikin riset dulu lalu ada liriknya, liriknya kemudian musiknya. Setelah ada musiknya baru kita kembangkan lebih lanjutnya. Digali lagi konsep itu.
Paduan Suara Eksperimental
Itu soal Zoo. Teknik suara seperti itu latihannya gimana?
Sedikit demi sedikit.
Aku pengen bisa. Hahaha.
Wah, nggak bisa mendadak. Sedikit-sedikit, pelajarin, secara detil seperti apa bunyi yang keluar dari kita dicari yang nyaman bukan mana yang bisa. Kalau aku begitu. Aku tiga tahun kemarin belum segini banyaknya, nanti tambah lagi tambah lagi.
Kalau di Indonesia ada nggak yang punya skill serupa?
Aku nggak tahu. Mungkin ada. Orang Indonesia talent-nya kan gila-gila, cuma kan bukan masalah skill-nya, (tapi) bagaimana menerapkannya ke visi musikmu. Aku kalau cuman gitu-gitu aja dengan musik seperti itu kan biasa juga. Jadi harus dikemas dengan yang tepat gitu.
Jadi akhirnya tidak seolah-olah konser yang pamer skill. Jadi kan orang menganggap skill-nya membantu membangun emosi dan energinya. Gitu.
Visi tadi yang dimaksud?
Iya, sama kayak Zoo yang bisa sampai 2025 aku bikin.
Senyawa?
Senyawa lain lagi. Senyawa fokusnya adalah mengembangkan potensi yang ada. Jadi di sini aku belajar mengembangkan potensi diri, pribadi, kemampuan, dan dalam hal musik juga.
Kalau nyebut nama, Rully Shabara ini inspirasinya dari siapa aja?
Wah banyak banget mas, banyak sekali. Dari teman-teman, lingkungan, dari musik yang aku dengerin, dari buku.
Aku nonton wawancara Vice, Mas keberatan kalau ini disebut musik tradisional.
Memang bukan tradisional kan. Aku nggak keberatan disebut apa-apa, tapi bukan tradisional kan. Musik tradisional itu punya pakem tertentu yang harus dihormati. Dan kami tidak melakukan itu. Kamu bisa bilang ini musik avant-garde, musik metal, silahkan. Karena ya gitu. Dan bagi itu gak penting itu genre. Genre itu hanya untuk membantu media atau jurnalis musik untuk mempelajarinya aja.
Tapi bagi musisinya sendiri itu malah sangat tidak penting. Malah membatasi mereka kalau ada sebutannya. Kalau ada sebutannya berarti hanya berkecimpung di kotak itu dong. Ya kan.
Aku follow instagram ada semacam kelas vokal gitu. Kayak gimana itu?
Oh itu aku, paduan suara eksperimental. Kamu bisa ikut kalau kapan-kapan kita bikin. Kapan-kapan bisa, di sini bisa. Kalau sekarang ini yang di Indonesia belum ada tapi kalau mau bikin aja. Kamu undang aku ke sini, aku datang.
Bedanya dengan paduan suara biasa?
Kalau paduan suara biasa kamu harus bisa nyanyi. Kalau ini paduan suara eksperimental, kita akan bereksperimen dengan suara apa pun yang ada.
Tujuannya apa?
Tujuannya membantu orang menjadi lebih percaya diri, bisa menggunakan vokalnya, bisa mengapresiasi bunyi. Begitu kalian selesai itu kalian akan “wah, ternyata aku bisa ya. Aku bisa menggunakan vokalku dengan cara begini. Nggak haram kok. Nggak harus merdu”.
Kalau mau bikin minimal berapa orang?
Minimal 10, 20. Aku pernah bikin sampai dengan 100. Nggak ada batasan. Semakin banyak semakin baik. Dua puluh ideal.
Apresiasi Paling Berkesan
Ketika konser di dalam negeri, apresiasi yang paling menyenangkan itu seperti apa?
Menyenangkan main di hadapan orang tua sendiri. Di kampung halaman. Pernah orang tuaku nonton, ibuku nonton.
Jadi perform di Palu sana?
Ya.
Kenapa itu menjadi spesial?
Rasanya kan lain. Bayangkan ibumu nonton kamu dan musiknya gitu.
Komentarnya?
Komentarnya, “nak kenapa kamu buka baju” gitu.
Jawabannya?
...
Di bagian pertanyaan terakhir, Rully tidak menjawab tegas. Gesturnya kikuk. Saya menduga, pembicaraan tentang ibu mungkin terlalu berharga untuk dibagi. Kesan itu semakin kuat ketika pada konser tunggal Senyawa bertajuk Tanah Air—yang beririsan dengan peringatan hari ibu—Rully menyematkan kredit khusus bagi ibundanya. Pertanyaan lebih personal semacam “kenapa tato di perut Rully bertuliskan ‘father’?” urung saya ajukan. Pencarian akar inspirasi visi musikal Rully Sabhara berakhir di sana. Seseorang kemudian menyela perbincangan kami untuk menyerahkan handuk penghapus keringat. “Wah tengkyu Bal. Dikasih ini? Wah, T-O-P-B-G-T.” []
Subscribe to:
Posts (Atom)