Tuesday, May 5, 2020

Mudik

Kemarin pagi, sewaktu isi bahan bakar motor, saya disapa seseorang berbahasa sunda. Dia bertanya tentang daerah asal saya setelah mendapati huruf yang sama di pelat nomor kendaraan kami. Ternyata saya dan dia dari satu kabupaten, satu kecamatan pula.

Meski tidak mengenal sampai tahap bertukar nama, kami berbagi kisah tentang rencana pulang kampung, yang sama-sama batal. Sampai sesi itu, kami berpisah.

***

Barangkali baru kali ini krisis kesehatan begitu berdampak secara global sejak awal abad ke-20. Banyak orang tidak mengantisipasi ketika akhir tahun lalu sebuah “penyakit semacam pneumonia” dilaporkan muncul di Tiongkok. Kita tidak menyangka bahwa sindrom yang kini bernama Covid-19 ini berpengaruh luas. Dalam hal ini, terhadap tradisi mudik.

Sejarawan punya pandangan berbeda tentang muasal kata “mudik”. Ada yang bilang itu kependekan dari frasa “mulih ke udik” yang berarti “pulang kampung”. Dengan pemaknaan yang sama, ada pula yang menelusuri bahwa kata itu datang dari Bahasa Melayu.
“Makanya ada istilah hilir-mudik,”
Demikian Asep Kambali menjelaskan. Hari Rabu besok, wawancara Asep akan tayang dalam program yang saya kerjakan: 15 Minutes Metro TV. Selain soal akar kata mudik, Asep juga menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak masa kerajaan.

Sejarawan lain sempat mengingatkan bahwa klaim bahwa “mudik terjadi di masa kerajaan” perlu lebih didalami melalui riset akademis. Meski demikian, Asep bulat berkata bahwa memang mudik ada sejak lama.
“Ketika Jayakarta dibangun, buruh didatangkan dari daerah Jawa. Begitu pula saat Batavia dibangun oleh pasukan yang dipimpin Souw Beng Kong untuk membuat kota yang dirancang Simon Melvin,”
Seiring waktu berlalu, tradisi mudik terus berlaku. Sebuah foto memperlihatkan momen ketika Bung Karno dan Bu Fat sungkem di hadapan Ida Ayu Nyoman Rai. Itu tahun 1946. Di tahun 1962 dan 1963, warga Jakarta diminta menunda tradisi ini. Musababnya, biar warga Jakarta tetap siaga demi merebut Irian Barat. Ibu kota jangan sampai kosong di masa pertempuran bersenjata itu.

Kini, pantangan serupa disuarakan, bahkan bukan cuma di Jakarta. Kecamatan tempat orang tua saya tinggal pun kena aturan PSBB. Artinya pemudik dilarang keluar-masuk. Yang boleh melintas cuma urusan kelangsungan hidup primer. Masalahnya, pelanggar aturan masih saja ada.

Jurnalis senior Usman Kansong kemudian menyampaikan pandangannya. Bahwa sebetulnya, dengan pemahaman bahwa mudarat lebih besar dari manfaat pulang kampung, mustinya pemudik urung balik. Kalau itu tidak mempan, mereka harus sadar bahwa tradisi ini urusan hati atau perasaan. Logika harus dikedepankan untuk penyeimbang.
“Virus ini urusan logika, jadi harus dilawan secara logis.”
Usman juga memberi saran bagi pengambil kebijakan. Menurutnya, kondisi pandemi saat ini dilematis. Ketika orang hendak didenda karena melanggar PSBB, ekonomi lagi lesu. Kalau dipenjara, justru para tahanan dibebaskan. Maka yang terpenting: pencegahan pelanggaran hukum lebih baik dibanding penindakan terhadapnya.

Itu dari sudut pandang pemerintah. Dari sisi kita yang warga biasa (dengan aksesibilitas teknologi), lebih baik ikuti trik yang secara spontan dilontarkan presenter 15 Minutes Wahyu Wiwoho:
“Sungkem virtual. Angpao-nya juga transfer aja.” []

Monday, May 4, 2020

Turis Siluman

Di waktu luang, akhir-akhir ini saya membaca sebuah buku catatan perjalanan. Judulnya Perjalanan Turis Siluman (2017). Di dalam buku terbitan Penerbit KPG ini, ada 51 cerita dari 61 tempat di 41 negara. Yang membuat saya tertarik beli dan baca: penulisnya Agus Dermawan T.

Pak Agus biasanya dikenal sebagai pengamat dan penulis seni rupa—salah satunya buku biografi pelukis Basuki Abdullah. Dia memang lulus dari Sekolah Tinggi Seni Rupa “Asri” Yogyakarta tahun 1976. Berbagai penghargaan pun ia raih atas fokus bidang yang ia dalami itu. Perspektif seni rupa dalam perjalanan wisata itulah yang ingin saya baca.

Lantas, kenapa judulnya “Perjalanan Turis Siluman”? Di bagian kata pengantar, Pak Agus menjelaskan bahwa maksud kata siluman, merujuk pada singkatnya durasi kunjungan ke sebuah lokasi.
“Namun kesingkatan itu menantang saya untuk menghayati sedalam-dalamnya,”
Contoh kedalaman yang saya suka, ada di catatan perjalanan ke Denmark. Penulis mengenalkan negeri ini sebagai gudangnya seniman, khususnya karikatur.
“Di Kopenhagen, di sebuah plaza yang ramai, berpraktik seorang pelukis karikatur. Ia bekerja on the spot dengan seorang model yang dipersilakan duduk di hadapannya.”
Penjelasan soal karikatur tidak hanya sedeskriptif itu. Pak Agus juga mengulas tentang skandal pembuatan karikatur Nabi Muhammad yang kontroversial. Ia pun mengkritisi dengan menyitir definisi karikatur—menurut sebuah judul naskah akademik yang disebutkan di dalam buku—bahwa sosok yang digambar harus pernah dilihat dan didalami karakternya.
“Dengan begitu, keindahan terpancar lewat kualitas moral yang tergambar.”
Referensi artistik dalam kunjungan wisata Sang Turis Siluman, juga ada lewat pemilihan tempat yang didatangi. Pak Agus mengutip pembicaraannya dengan Tio Tjay, pelukis asal Indonesia yang sudah belasan tahun tinggal di Amazon, Brazil.

Dari seniman yang dikenal dengan lukisan warna berani latin bergaya oriental itu, Pak Agus mengisahkan air terjun Iguazu. Lokasi wisata alam ini ada di tiga negara dan punya 275 air terjun, lebih megah dibanding air terjun Niagara di perbatasan AS-Kanada.

Kumpulan memori wisata dalam 390 halaman ini berasal dari kurun waktu 1991 sampai 2016. Beberapa cerita terasa sudah mengalami pemutakhiran data. Misalnya meski berkisah tentang kunjungan ke Museum Pearl Harbor Hawaii pada tahun 2011, peristiwa kunjungan PM Jepang tahun 2016—yang menandai rekonsiliasi perang Jepang-AS—juga tak luput dituliskan.

Membaca buku ini, memang seperti menyimak cerita dari kakek kita tentang sejarah, filosofi, budaya, hingga politik. Kesan “cerita kakek” itu terasa entah karena saya membayangkan Pak Agus mendongeng dengan rambut putihnya yang tersisir rapi itu, atau mungkin karena candaan khas sepuh semacam ini:
“Maskot jam abad ke-15 ini adalah patung kerangka manusia (aahh, kerangka manusia lagi!), yang ikut bergerak misterius kala jam berbunyi. Patung itu seolah berkata: ‘Pada waktunya, kamu akan seperti aku... huuuuaahahahaha!’” []

Sunday, May 3, 2020

Penjara

Gambaran hidup di dalam penjara, salah satunya saya baca dari novel 86 buatan Okky Madasari. Ceritanya tentang pasangan miskin yang terpaksa jadi penjual narkoba. Penyuapan sampai pemerkosaan jadi semacam perwujudan neraka dunia yang dituliskan di dalamnya. Lantas bagaimana realitanya? Bagaimana pula kondisi di negara lain?

Indonesia

Di tengah masa pandemi korona baru, pemerintah membuat kebijakan pembebasan narapidana. Bagi banyak napi, ini kabar gembira. Bahkan sempat tersebar video para napi keluar penjara sambil bergoyang ala gaya popular di media sosial Tiktok.

Lain halnya dengan seorang napi berusia 43 tahun di lapas kelas 2A Samarinda. Narapidana kasus narkoba yang sudah menjalani 2,5 tahun dari 4,5 tahun masa tahanannya itu, menolak meninggalkan hotel prodeo bersama 137 orang lain. Katanya dia sudah betah di dalam rutan. Dan dia tidak sendiri. Empat orang dari lapas yang sama mengaku sudah tidak punya keluarga di Samarinda dan merasa lebih baik ada di penjara.

Gambaran itu seakan kontradiktif jika disandingkan dengan data bahwa sistem pemenjaraan Indonesia sudah overcrowd—bukan overcapacity. Visualisasi data di bawah ini menunjukkan bahwa masalah ketersediaan ruang jadi masalah utama sistem peradilan kita—selain tentu saja problem klasik semacam implementasi “semua orang sama di mata hukum”.


Amerika Serikat

Bagi budaya barat, angka 13 dipercaya sebagai angka sial. Akibatnya, banyak gedung tidak menggunakan angka 13 di tingkat setelah 12. Tanggal 13 hari Jumat juga ditakuti sebagai hari buntung. Angka 13 ternyata juga ada dalam nasib sial warga kulit berwarna di Amerika Serikat, terkait amandemen ke-13 konstitusi AS.

Di satu sisi, perubahan itu berisi penghapusan bagi perbudakan. Namun di lain sisi, di dalamnya juga tertulis bahwa perbudakan diakui sebagai penghukuman kejahatan. Dalam praktiknya, kejahatan yang terjadi di negara paman sam seringkali bias ras.

Film dokumenter 13th menggambarkan kondisi itu. Stigma negatif warisan perbudakan kulit hitam ditanamkan melalui film Birth of the Nation (1915). Sosok warga kulit hitam dicitrakan antagonistis. Penindasan warga kulit hitam lalu berlanjut ketika Ku Klux Klan menebar teror. Pemberitaan tentang penculikan dan pembunuhan “Negro Boy” muncul di Koran.

Kisah paling menyesakkan, terjadi pada Kalief Browder, awal decade kedua abad ke-21 ini. Di usianya yang masih 16 tahun, ia dituduh mencuri. Polisi kemudian menangkapnya atas keterangan seorang saksi. Kalief lalu dipenjara sebelum diadili, selama 3 tahun. Bahkan, dua tahun di antaranya ia habiskan di dalam sel khusus.

Dalam footage yang ditampilkan dalam film berdurasi 100 menit ini, tampak Kalief mengalami penindasan berulang kali—dari sesama tahanan dan dari petugas penjara. Pada akhirnya, ia dibebaskan karena tidak cukup bukti untuk kasusnya ditindaklanjuti ke tahap pengadilan. Dalam usia 22 tahun, Kalief meninggal akibat menggantung dirinya sendiri.

Buruknya sistem pemenjaraan di AS, ditengarai terjadi karena kurungan bukan lagi jadi sarana penghukuman, melainkan bisnis. Komodifikasi politik soal warga kulit hitam, yang bercampur dengan stigma ala segregasi warna kulit, memperparah kondisi itu. Seorang aktivis dan edukator pemenjaraan, Liza Jesse Peterson, mengibaratkan sistem dan industri pemenjaraan di AS sebagai monster.
“It eats black and latino people for breakfast, lunch and dinner.”
Kondisi itu, ternyata belum banyak berubah. Yang menjadi pembeda sekarang cuma adanya handphone. Sehingga semua ketidakadilan bisa diunggah ke YouTube dan urusan itu bakal jadi perhatian dunia. Actor dan produser film Van Jones menegaskan:
“That’s was new. It’s not the protest, it’s not the brutality. It’s the fact, that we can force a conversation about it.”
Naiknya Donald Trump ke kursi presidensial justru memberi dukungan bagi white supremacist. Ketika tampil footage hitam putih tentang seorang kulit hitam dipersekusi di jalanan, perisakan lain dihadirkan berselang yang menunjukkan bahwa itu juga terjadi hari ini. Rekaman suara Trump memperkuat kesan kelam:
“In the good old days this doesn’t happen because the used to treat them very, very rough.
And when they protested once you know, they would not do it again so easily.
I love the old days.”
Semburan kebencian Trump lalu disambut musisi Common yang berduet dengan Bilal. Lagu mereka berjudul Letter To The Free, memuat kalimat:
“Shot me with your Reagan and now you wanna Trump me.”
Lagu yang sama lalu jadi penutup film arahan Ava DuVernay ini. Dalam satu penggalan lirik Common dan Bilal juga bernyanyi:
“Prison is a business America is a company, investing in injustice, fear and long suffering.” []