Wednesday, May 13, 2020

Yali

Di papua ada seorang politisi. Namanya Yali. Dia berpendidikan terakhir tingkat SMA. Yali belum pernah pergi ke luar pulau Papua, tapi rasa ingin tahunya tinggi.

Suatu ketika, Yali berjumpa dengan seorang peneliti asal Amerika Serikat yang sedang ada di Papua. Namanya Jared Diamond. Kepada Jared, Yali bertanya:
“Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?”
Jared kemudian menjelaskan jawabannya dalam sebuah buku tebal. Jumlahnya lebih dari 600 halaman. Buku yang ditulis 25 tahun setelah Yali bertanya itu diberi judul: Guns, Germs and Steel.

Bedil, Kuman dan Baja

Saya tertarik baca buku ini karena Yuval Noah Harari memujinya. Bahkan dalam sebuah pertemuan, secara terbuka Yuval mengaku bahwa buku inilah yang menginspirasinya menulis trilogi Sapiens. Buku Yuval yang berjudul Homo Deus (dan ceramahnya tentang buku Sapiens) membuka cakrawala baru bagi saya dalam memandang sejarah peradaban manusia. Maka, buku Jared barangkali akan memberi pengalaman serupa.

Saat ini saya baru sampai di halaman dua ratusan. Masih jauh untuk memahami isi buku ini secara utuh. Meski begitu, garis merah gagasan yang ditulis ahli ornitologi ini sudah bisa saya ikuti.

Secara ringkas, Jared merangkum bahwa penaklukan suatu wilayah melewati tiga tahapan sesuai judul buku: senjata, penyakit dan teknologi. Secara fundamental, Jared menganalisa tentang penyebab adanya perbedaan kondisi suatu peradaban dibanding peradaban lainnya.

Jawaban bagi Yali, ada di kondisi geografi. Menurut Jared, kondisi alam di daerah tropis tempat Yali tinggal, cenderung “menyerap energi dan menghambat kreativitas”. Kondisi ini, bukan berarti minus dampak positif. Jared menuliskan bahwa orang Papua justru berpotensi lebih cerdas karena lebih sering menerima rangsangan aktif untuk meningkatkan perkembangan mental. Meski tentu saja harus didukung dengan nutrisi pula.

Di bagian lain buku tebal ini, ada juga penjelasan tentang kondisi yang mempengaruhi ketersediaan sumber pangan di Papua. Melalui perspektif evolusi, Jared juga merinci peristiwa domestikasi.

Domestikasi atau “perumahan” bermakna proses yang dilakukan spesies manusia untuk “merumahkan/ mengandangkan” spesies lain yang sebelumnya "liar". Meski pada faktanya justru manusialah yang kemudian dirumahkan.

Karena memiliki teknologi untuk mengembangkan tanaman sumber karbohidrat, koloni manusia bisa menetap. Lantas lahirlah struktur kekuasaan yang bersumber dari akses terhadap sumber pangan tadi. Demikianlah peradaban berlanjut. Jawaban untuk Yali masih panjang terbentang. []

No comments:

Post a Comment