Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Monday, August 6, 2018

Kolaborasi

Intan mengangkat tangan. Dia memang paling aktif pagi itu. Matanya selalu memancarkan binar antusiasme. Meskipun yang dia kisahkan sebenarnya cerita pilu. Intan yang kini duduk di kelas 11, punya seorang kerabat yang gagal melanjutkan studi ke SMA. Musababnya, sistem zonasi. Maksudnya, siswa yang domisilnya jauh dari sekolah yang ingin dia masuki, saat seleksi akan kesulitan buat bersaing dengan siswa yang lebih dekat ke sekolah. Orang yang diceritakan Intan akhirnya lanjut belajar di SMK, karena tinggal di luar kecamatan Limbangan.

Soal sistem zonasi, Novia punya pendapat beda. Siswa kelas 12 yang menyandang sabuk cokelat karate ini memandang skema penerimaan siswa baru tahun ini sudah bagus. Katanya agar kualitas pendidikan merata. Benarkah demikian? 

Saya lalu bertanya ke siswa kelas satu. Sayangnya nggak ada yang berani bercerita di hadapan 20 orang lebih di ruangan itu. Saya sampai harus minta tolong Yayu sang ketua OSIS buat tunjuk adik kelasnya biar bicara. Saya memaksa karena memang mereka harus berani berpendapat di depan banyak orang. Dan keberanian itulah salah satu hal yang ingin kami tumbuhkan di dalam diri adik-adik kami, pelajar di Limbangan (khususnya).

Saya bercerita tentang pengalaman kami bertiga: Reza, Rizki, Aldi. Kami hadir ke SMAN 13 Garut buat berbagi pengalaman. Persis semacam kelas inspirasi (KI), cuma targetnya aja yang beda—KI bicara di depan siswa SD, kami presentasi di hadapan remaja SMA. Tapi golnya sama. Kami mau, anak-anak dari Kecamatan Limbangan bisa punya banyak pilihan untuk berprofesi. Untuk berkontribusi ketika indonesia menuai bonus demografi.

Tulisan ini, selain berupa ulasan sekaligus juga ajakan buat siapa pun profesional asal Limbangan Kabupaten Garut (khususnya), untuk ikut berbagi pengalaman. Tentang masa SMA yang menyenangkan sekaligus menegangkan, tentang dihidupi dan menghidupkan renjana (passion), tentang hal-hal positif yang bisa ditiru remaja di kampung kita. Bisa jadi, dari SMA Limbangan akan lahir seorang sutradara visioner di kemudian waktu. Hari ini dia getol bikin film, bermodal kamera handphone. Siapa sangka pula, nanti bakal ada pengarang berpengaruh dari SMA ini. Sekarang dia masih cari cara publikasikan kumpulan tulisannya. Saya bertemu mereka. Ngobrol sama mereka. Di Limbangan. Dan nggak mau mereka jadi bagian dari video lagu Lentera Jiwa yang menampilkan orang-orang dengan keseharian di bidang kerja yang tidak mereka suka—kami sempat tayangkan video itu sebagai selingan.

Di kesempatan berikutnya, mereka mau dikenalkan lagi dengan luasnya dunia. Bukan cuma dari mata jurnalis, farmasis, geofisis. Sambil menunggu kepastian jadwal pertemuan kedua, untuk sementara kami berkomunikasi dulu lewat grup whatsapp. Bisa bahas pelajaran sekolah, latihan berbahasa inggris, atau mungkin saling bantu kalau ada kesulitan di aplikasi belajar coding yang kami pakai. Intinya, kita berkolaborasi. Mari!

Saturday, July 21, 2018

Agus


Saya kenal seorang Agus. Dia teman saya semasa kuliah di periode 2008-2011. Tahun 2012-2013 Agus lanjut jadi asisten dosen di departemen kami. Lima tahun berikutnya Agus tinggal di Amerika Serikat, meraih gelar master dan sekarang menjemput titel doktor.

Lima hari terakhir Agus berkunjung ke Bandung, tempat saya sekarang tinggal bersama anak dan istri. Di hari kedua kunjungannya, saya ajak Agus menjelajah kawasan kota tua. Sore itu kami mulai dari pertigaan jalan braga dan jalan asia afrika. Agus menunggu di seberang Starbucks. Ketika kami duduk berhadapan sekitar 20 menit kemudian di Warkop Purnama, titik tempat dia menunggu terekam dalam sebuah foto bernuansa sepia, ketika jalanan di masa itu lengang dan delman masih melintasi jalan asia afrika ke arah timur—sekarang, arus lalu lintas di jalan asia afrika dibuat searah ke barat, dan tentu saja tidak ada lagi delman. Kota Bandung beruntung masih punya beberapa warisan peninggalan masa lalu. Dan kisah dari berbagai lokasi bersejarah itulah yang saya kenalkan ke agus dalam tiga hingga empat jam setelahnya.

Di warung kopi yang semula bernama Chang Chong Se itu, saya dan agus ngobrol lama. Ditemani roti srikaya—yang saya paksa Agus buat nyicip—kami bicara banyak hal. Dari presiden sampai dosen. Dari buku The Broken Ladder—tentang kesenjangan ekonomi—hingga kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia. Dari film The Death of Stalin sampai Buffalo Boys. Sebagai kawan lama, tentu saja pembicaraan tentang masa lalu juga kami ungkit. Agus masih tertawa lepas ketika saya ceritakan ulang soal egosentrismenya sebagai anak bungsu. Dan agus sempat bikin kaget karena mengingat bahwa saya pernah berniat untuk melarang istri bekerja ketika menikah kelak. Saat itulah saya sadari bahwa, kami berubah.

***
Saya dan Agus sama-sama suka film. Katanya, dia selalu ceritakan ke teman-temannya di Amerika tentang film yang pernah kami buat bertiga, bersama Metha. Saya dan Agus juga suka bertukar referensi film. Selama di Amerika sana, Agus sulit buat nonton film Indonesia. Saya ceritakanlah bahwa Pengabdi Setan memang seseru Hereditary. Bahwa akhir-akhir ini banyak film nasional yang menarik. Dari Kulari ke Pantai sampai Buffalo Boys. Judul terakhir itu yang semalam saya tonton.
Buffalo Boys bercerita tentang tiga orang pria Jawa yang kembali ke kampung halamannya setelah diungsikan ke alam liar benua amerika tahun 1860. Ketiga orang tadi kemudian membawa bekal kemampuan bertarung ala wild west ke east indie, untuk membalas dendam ke bangsa penjajah.

Kalau dikait-kaitkan, Agus ini Buffalo Boys juga. Seorang yang lahir di Jawa Barat merantau ke pesisir timur Pennsylvania. Seperti trio Jamar, Suwo dan Arana, Agus pulang sementara dari negara barat ke belahan bumi timur dengan oleh-oleh khasnya. Sepertinya, anugerah terbesar Agus setelah dia berjuang di masa menjadi asisten dosen, bukan cuma gelar akademik di Amrik. Keleluasaan berpikir. Dan keberanian mengambil keputusan. Mungkin itu yang paling dia nikmati saat ini, di negeri yang mendewakan kata freedom. Apakah kebebasan dan keberanian Agus (akan) subur juga di Indonesia? Tidak ada jaminan demikian. Mungkin kenyataan itu yang mendorong Agus buat balik lagi dan tinggal di sana. Bisa sampai lima tahun ke depan, bisa juga lebih lama dari itu. []

Tuesday, June 26, 2018

Perang Makassar


Koran Kompas hari minggu adalah favorit saya. Bahkan edisi berminggu-minggu yang lalu, akan tetap saya simpan fisiknya kalau memang belum dibaca atau kontennya berkesan. Contohnya yang saya sobek dan simpan dari tanggal 13 Mei lalu. Ada artikel berjudul Akhiri Perseteruan Tiga Abad. Tulisan buatan Muhammad Ikhsan Mahar dan Edna C. Pattisina ini berujung pada kesimpulan bahwa konflik masa lalu bisa dihadirkan lagi demi jadi alat politik. Dan kita musti waspada.

Kisah di artikel itu bertarikh tahun 1666 hingga 1669, ketika Perang Makassar pecah. Musababnya, seorang bangsawan kerajaan Bone bernama Arung Palaka. Ketika itu keturunan Bone berada di bawah pengaruh kerajaan Gowa, meski sebenarnya bangsawan Gowa memperlakukan pemilik darah biru dari Bone dengan baik. Ia merasa siri dan pesse atau perasaan harga diri dan rasa malunya terusik akibat bangsawan Bone diminta ikut menggali parit untuk melindungi kerajaan Gowa dari kolonialis VOC—sumber lain menyatakan bahwa Arung Palaka dari Bone marah karena pihak Gowa melanggar perjanjian untuk saling memuliakan.

Singkat kisah, pemberontakan Arung Palaka ditumpangi pihak ketiga tadi. VOC melalui Cornelis Speelman, ingin mengambil alih benteng Sumba Opu. Misi itu kemudian terwujud. Sultan Hasanuddin melepas tahta. Meski demikian, setelahnya Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka justru membuang dendam. Itu terbukti dengan makam Arung Palaka yang lokasinya tidak jauh dari pusara Sultan Hasanuddin. Antropolog Unhas, Tasrifin Tahara, menyimpulkan konflik sudah selesai secara kultural.

Sekitar 350 tahun terlewati sejak Perang Makassar, sebuah unggahan menyerukan ajakan untuk menghancurkan patung Arung Palaka dan membongkar makamnya, karena ia dinilai sebagai pemberontak. Padahal menurut pengajar Ilmu Sejarah di Unhas, Amrullah Amir, “tidak tepat menyebut sosok pengkhianat yang dikaitkan dengan bangsa Indonesia karena abad ke-17 konsep negara Indonesia belum ada.”

Kisah Arung Palaka dan Sultan Hasanuddin dalam artikel di rubrik Politik dan Hukum tadi, sebenarnya menyuarakan sebuah peringatan yang tidak hanya berlaku bagi suku bangsa di Sulawesi Selatan, tapi juga di wilayah Indonesia lain yang memang sudah ditaktirkan bermula dari banyak kerajaan yang (beberapa) pernah saling berkonflik.
“Tampaknya, tambah Tafsirin, konflik pada masa lalu akan dimanfaatkan generasi kini untuk mengagungkan ketokohan keduanya sebagai representasi etnis Bugis dan Makassar. Di pertarungan politik, misalnya, persaingan calon kepala daerah akan mengerucut pada persaingan antartokoh kedua etnis.” []


Sunday, March 18, 2018

Tiarap

Masih soal polemik karikatur Majalah Tempo, yang direspon FPI dengan demonstrasi. Seperti yang kita telah ketahui, bahwa demonstrasi berakhir dengan permintaan maaf. Saya baca sebuah komentar di foto instagram Budi Setyarso—pemimpin redaksi Koran Tempo—bahwa seseorang melihat Arif Zulkifli dan Budi, dipaksa meminta maaf. Komentar itu disukai oleh empunya akun instagram @budisetyarso, yang kemudian saya pahami sebagai “ya, memang begitulah kondisinya”. Kisah tentang tekanan terhadap pers dan produk jurnalistik, banyak berasal dari masa orde baru. Wartawan yang mengalami era penuh tekanan itu pasti punya kisah menarik tentang bagaimana mereka sintas. Salah seorang di antara mereka, Karni Ilyas—yang biografinya masih saya baca. Ada sebuah bab yang membahas bagaimana majalah FORUM Keadilan yang dipimpin Karni, selamat dari pembredelan. Saya akan kisahkan garis besarnya untuk kemudian kita bandingkan dengan kondisi kekinian. Pada masa orde baru, operasional media massa harus berlangsung di bawah restu Menteri Penerangan melalui Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Surat sakti ini bisa saja dicabut sewaktu-waktu dengan berbagai pertimbangan.
“Awak redaksi Tempo biasa menggunakan istilah ‘tiarap dulu’ bila pemberitaan mereka sedang bikin merah kuping penguasa” (hal. 228)
Majalah FORUM Keadilan, pada tahun 1994 sedang ada dalam incaran pembredelan, artinya SIUPP mereka akan dicabut. Penyebabnya, menurut Karni yang mendapat bisikan dari Gorries Mere—sekarang pensiunan jenderal Polri—ada pejabat kepolisian yang tidak menyukai Karni.
“Jadi waktu itu bukan FORUM lagi target operasi untuk dibredel, tapi sudah saya targetnya” (hal. 231)
Lalu apa yang dilakukan Karni? Ia menghubungi enam jenderal agar mereka menelepon Menteri Penerangan Harmoko untuk mengaku bahwa FORUM adalah majalah milik mereka—padahal sebenarnya satu grup dengan majalah Tempo. Harmoko akhirnya batal menghentikan izin terbit majalah FORUM Keadilan, karena “Harmoko kan nggak berani sama tentara, saya tahu kelemahannya itu”, kata Karni seperti tertulis di halaman 223 buku biografinya.
“Nah ketika kondisi sedang gawat begitu, Tempo bikin laporan tentang kapal selam dari Jerman. Dipakailah kesempatan itu oleh Harmoko untuk menghantam Tempo. Padahal maunya menghajar FORUM…” (hal. 223)
Ilmu Undur-undur Trik penyelamatan yang dilakukan Karni, diakuinya mirip ilmu undur-undur yang diajarkan sang ayah: berhenti bila ada kaki orang, jalan lagi bila halangan sudah berlalu. Jajaran pemimpin Tempo barangkali sedang bersiasat serupa. Meladeni permintaan demonstran ibarat mengulur benang layangan mengikuti arah angin, untuk kemudian menukik memutus senar layangan lain. Yang jelas, sekarang setidaknya mereka-yang-merasa-tersinggung-dengan-gaya-berita-satire-ala-karikatur-Tempo, sedikit terpuaskan. Dan kita pun makin paham bahwa di era pasca reformasi ini, tantangan berkarya jurnalistik bukan lagi berupa pengekangan penguasa, melainkan kebebasan yang kebablasan.
“Adalah tugas kita semua menjaga agar arah reformasi di segala bidang itu tetap bisa positif dan tidak berbalik menjadi negatif. Sebab, kalau itu terjadi, kita semua akan rugi dan kehilangan momentum untuk mempunyai negara demokratis yang berwibawa” (cakum Pendulum, 29 Juni 1998) []

Friday, March 16, 2018

Imigran

Pagi ini saya memandu seorang narasumber untuk diwawancara dalam siaran langsung oleh presenter dari studio di Jakarta. Segmen 2 program Selamat Pagi Indonesia Metro TV bahas tentang imigran di Kalideres Jakarta yang mengganggu warga setempat. Untuk membahasnya, dari Bandung dihadirkan Kepala Humas Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Agung Sampurno—yang kebetulan lagi ada di sini. Nah, sebelum on air, saya dan Pak Agung sempat ngobrol. Dan penjelasannya, kurang lebih juga disampaikan ketika dia diwawancara Sumi dan Iqbal.

Menurut Pak Agung, persoalan imigran sebenarnya dilematis. Di satu sisi, mereka meresahkan masyarakat tuan rumah—seperti yang diberitakan informasi pembuka wawancara. Di sisi lain, nasib malang yang menimpa mereka, memancing simpati juga—diakui warga Kalideres di bagian akhir liputan di atas. Lalu, kenapa mereka datang ke negara kita? Salah satunya, masalah politik di negaranya—ada juga yang karena punya masalah ekonomi.

Saya sempat mengira bahwa Suriah menjadi negara asal sebagian besar pengungsi. Ternyata bukan. Sebagian besar pengungsi berasal dari Afghanistan, negara yang memang sejak puluhan tahun lalu dilanda perang. Dengan posisi geografis yang relatif lebih dekat, mereka kemudian menempati beberapa rumah detensi—Indonesia punya 13 rumah detensi yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Rumah detensi ini sendiri, sebenarnya berfungsi sebagai tahanan bagi orang yang melakukan pelanggaran keimigrasian, tapi sekarang malah fungsinya jadi semacam pengungsian, bagi 13 ribuan imigran yang datang ke Indonesia.

Dilematis

Barangkali satu kata itu yang menggambarkan posisi pemerintah kita menghadapi kedatangan para imigran. Ditjen Imigrasi—sesuai undang-undang nomor 6 tahun 2011—tidak menangani imigrasi. Mereka turun tangan berdasarkan perpres 125 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri, dengan memberi bantuan penampungan di rumah detensi. Dengan demikian, penanganan yang dilakukan jajaran ditjen imigrasi, mempertimbangakn faktor kemanusiaan. Bagaimana pun, imigran juga manusia. Sama halnya dengan imigran dari Indonesia yang masuk ke pegara pengguna tenaga kerja domestik asal Indonesia—jumlahnya seratusan ribu di Arab Saudi, dan ada juga yang masuk secara ilegal.

Solusinya, sebenarnya ada di tangan negara maju yang meratifikasi perjanjian penampungan imigran. Misalnya tetangga dekat kita: Australia. Sayangnya, negeri wool itu nampaknya juga kesulitan menangani pengungsi. Kondisi mereka di Pulau Manus mengenaskan. Di Nauru juga begitu. Christmas Island—yang katanya keliatan dari pantai selatan Sukabumi—kata Pak Agung mau dijadiin pulau berbasis turisme. Sekarang, yang bisa dilakukan Indonesia, paling melobi negara-negara yang sudah meratifikasi konvensi penampungan imigran, untuk mau mewadahi saudara kita yang malang tadi. Karena, meskipun jumlah imigran pencari suaka di Indonesia lebih sedikit dibanding negara tetangga—di Malaysia ada 110 ribu orang—tetap saja (menurut warga setempat yang merasakan) keberadaan mereka meresahkan.

“Jadi inget film District 9”, kata saya ke Pak Agung. “Ada wilayah khusus alien di Afrika Selatan, dan orang yang masuk ke sana ternyata ketularan jadi alien juga”.

“Oh iya, gimana kalo petugas kita yang bantu mereka kena penyakit? Udah ada laporan yang kena sifilis loh”, pembicaraan saya dan Pak Agung terhenti karena wawancara di TV akan dimulai. []

Thursday, June 22, 2017

Pevi Permana dan Pemuda Hijrah

Sekitar tahun 2010, saya jalan-jalan ke sebuah event di ITB. Ketika itu ada acara skateboarding juga di sana. Skateboarder terkenal dari Bandung kumpul di sana. Datanglah salah seorang dari mereka ke arena. Dia pakai kacamata hitam, rambut gondrong, tangannya menenteng papan seluncur dan tali yang terhubung ke leher anjing chihuahua. Orang ini Pevi Permana. Beberapa hari lalu, saya ketemu lagi sama Pevi. Kesan saya tentang dia berubah. Ternyata sekarang Pevi nggak “setinggi” itu. Pevi saya wawancara sebagai seorang muslim yang berhijrah. Pindah dari kehidupan lama ke hidup baru yang lebih agamis. Obrolan kami digelar di sela aktivitas padatnya di Jakarta-Bandung-Bali. Pevi meluangkan waktu sekitar dua jam di kantornya di Gudang Selatan, Bandung. Kami berbincang selama sekitar 10 menit di depan sebuah café di dalam gudang artistik itu. beberapa kali Pevi menunduk, terutama ketika bercerita tentang masa lalunya. Sebelum Hijrah Pevi Permana lahir tahun 1988. Pada tahun 1999, ia mengenal papan skateboard dari teman sepermainannya. Sementara teman-teman yang mengenalkannya kepada skateboard berhenti bermain skate, Pevi terus menekuni hobi ini hingga bertahun-tahun setelahnya. Empat tahun kemudian, dia mulai ikut kejuaraan. Dalam dua kompetisi pertama sepanjang karirnya, Pevi berhasil menembus babak final. Di kali ketiga, juara ketiga langsung dia sabet. Tahun 2005 ia menjadi juara tingkat nasional. Dua tahun setelah itu gelar tingkat Asia ia raih, hingga di tahun 2009, Pevi Permana mencatatkan namanya sebagai skateboarder peringkat ke-40 tingkat dunia. Dari berbagai prestasinya tadi, Pevi mulai hidup mandiri. Kemandirian ini, yang dilengkapi dengan prinsip “tanpa aturan main” dari permainan skateboard, membuat pevi lekat dengan sebuah gaya hidup.
Yang saya alami ketika saya punya uang dari skateboard mulai hedonisme. Mulai merasa dirinya sebagai bintang. Mencukup keuangan karena pertandingan sering, juara sering, dapet hadiah. Selalu setiap bulan ada 3-4 kali. Dapet juga gaji dari sponsor. Di situ mulai, yang namanya kalau kata (bahasa) sundanya mah hidup aing kumaha aing.
Hijrah Selain karena sang istri, hidup Pevi kemudian berubah setelah ia menyerah dengan ajakan seorang teman. Adalah Fani Inong, seorang skateboarder yang aktif berpapan seluncur sejak tahun 90an. Selama dua tahun, Inong terus mengajak Pevi ikut pengajian.
Tidak mau, sibuk, ada acara, harus main skateboard. Seribu alasan yang saya punya. Tapi ketika (itu) selalu istiqomah teman saya ngajak. Dan akhirnya saya merasa nggak enak karena sering diajakin dan akhirnya saya ikut ke kajian itu. Ternyata kajian itu sangat bermanfaat, kayak mengisi nutrisi hati dimana hati itu kosong ga ada apa-apa tiba-tiba dikasih nutrisi. Hati itu menjadi lebih baik, dan hati dari yang hitam pekat itu bisa jadi abu-abu. Dari situ saya mulai luluh dan nggak keras hati. Dari situ saya mengenal yang namanya solat.
Kajian yang dimaksud Pevi, adalah kegiatan yang digelar kelompok Pemuda Hijrah. Diakui Pevi, ceramah keagamaan yang biasa diikutinya di sana terasa lebih ringan. Saya pernah hadir ke sebuah acara yang digelar di mesjid Trans Studio Mal Bandung. Waktu itu saya tiba pas solat isya tiba. Masjid besar yang ada tepat di sebelah pusat perbelanjaan itu penuh. Saya dan ratusan orang lain sampai harus nunggu giliran buat bisa ikut solat. Itu pun bukan di dalam mesjid, tapi di area parkir. Konten ceramah Ustad Hanan memang dekat dengan kalangan muda. Ketika berbicara tentang Nabi Musa, Ustad muda kelahiran 1981 ini bisa sekaligus membahas tentang gaya milenials di medsos instagram. Saya mengajukan permintaan wawancara dan peliputan Pemuda Hijrah sejak bulan April. Hingga akhir bulan Juni ini, jawabannya sama: komunitas The Shift atau Pemuda Hijrah, belum mau tampil di televisi. Saya juga berusaha mewawancarai Inong, yang juga aktif di Pemuda Hijrah. Sayangnya ia berhalangan. Tapi Pevi sempat cerita, tentang apa alasan Inong mengajaknya hijrah. Katanya, kenikmatan hijrah sama seperti asiknya bermain skateboard.
Dia sekarang mendalami agama. Dan sekarang sudah sangat dalem paham banget soal agama, makanya dia mau mengajak bahwa 'ya saya tau skateboard itu enak, fun. Makanya saya selalu ngajak orang main skateboard. Halnya sama kayak agama itu enak, agama itu fun. Makanya saya mau ngajak kamu ke tolabul ilmu, mengajak ke yang lebih baik. Karena enak.' Menurut dia seperti itu.
Pasca Hijrah Maghrib tinggal belasan menit lagi. Tadinya Pevi mau solat maghrib di mesjid Al Latif, mesjid yang bisa dibilang markas komunitas Pemuda Hijrah. Rencana itu batal karena katanya harus beresin kerjaan di kantor HLWD. HLWD ini brand buatan Pevi yang semula bernama Hellwood. Produknya berupa papan skate dan busana yang spiritnya skateboarding. Hellwood berubah jadi HLWD setelah Pevi hijrah.
Ketika itu memang lagi hell banget. Saya pun bikinnya secara tidak sadar. Ketika saya pikir-pikir sekarang, aduh berat banget namanya takut kebawa-bawa sampe akhirat, akhirnya saya ganti jadi HLWD. Dan sekarang mau manufacturing juga jadi Landed Club, karena sudah landing. Filosofinya di sana karena sudah mulai mendarat semuanya sudah mulai kondusif biar lebih enak terdengar juga.
Lalu, apakah pasca hijrah, Pevi berhenti bermain skateboard? Jawabannya tidak. Kini bahkan ia jadi atlet nasional. Ketika dimintai waktu wawancara pekan lalu, Pevi berhalangan karena lagi ikut pelatnas. Di kesempatan lain ketika saya minta kesempatan ambil gambar pas main skateboard, Pevi bilang besok aja di Bali pas perayaan skateboarding day 21 Juni 2017. “Berarti lusa bukan besok,” saya mengingatkan. “Oh iya berarti lusa,” Pevi jawab setelah diam dulu. “Akang terlalu excited nih kayaknya.” :)

Sunday, April 14, 2013

Menyelamatkan Musik Indie dari Penciptaan Kultur yang Pragmatis

Mereka menyebut musik ini sebagai musik indie. Ada yang mengatakan bahwa musik indie kini sudah menjadi sebuah genre musik tersendiri, sehingga mereka mengurai sebuah sistem alam semesta bernama musik yang terbagi menjadi beberapa galaksi bernama genre mulai dari pop, rock, jazz, klasik, blablabla dan lalu munculah genre indie. Album musik indie akan diberi rating tinggi di berbagai media musik dibandingkan dengan album-album musik mainstream. Dan orang yang mendengarkan musik indie lebih berkelas dibandingkan mendengarkan musik mainstream. Lalu apakah anda serius membaca paragraf ini? Baiklah, sebenarnya saya tidak serius menulis paragraf ini. Hal-hal berbau sok tahu diatas merupakan hasil pola pikir saya yang merupakan fusi dari naif dan pragmatis yang sampai sekarang diksi dari percampuran pola pikir tersebut mungkin belum dapat anda temukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia.