Sunday, August 2, 2020

Rancang Agung

Dua orang fisikawan ini ternyata nggak semembosankan yang dicitrakan. Mereka cukup humoris kok. Saya baru tamat baca buku The Grand Design atau Rancang Agung. Judul ini ditulis dua orang: Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow.

 

Hawking dikenal sebagai astrofisikawan yang meskipun mengalami kelumpuhan namun tetap produktif menyampaikan buah pikirannya. Stephen Hawking sohor dengan bukunya yang berjudul A Brief History of Time. Sementara Mlodinow, ahli fisika dari Caltech. Pernah nonton serial Star Trek: The Next Generation? Nah, Leonard Mlodinow inilah penulis kisahnya.

 

Buku Rancang Agung menjabarkan jawaban atas tiga pertanyaan utama yang tertulis di sampulnya:

-       Kapan dan bagaimana alam semesta bermula?

-       Mengapa kita ada di dunia ini?

-       Bagaimana campur tangan Tuhan dalam rancangan agung alam semesta?

Saya akan bocorkan jawabannya satu per satu.

 

Alam semesta kita bermula dari sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama big bang alias ledakan besar. Melalui buku ini, saya paham lebih detil bahwa big bang yang dimaksud bukan terbayang lambat, melainkan sangat cepat.

 

“Kecuali kalau Anda tinggal di Zimbabwe, di mana inflasi mata uang baru-baru ini melebihi 200.000.000 persen, istilah itu mungkin tak terkesan sangat eksplosif. Tapi menurut perkiraan konservatif pun, selama inflasi kosmologis, alam semesta mengembang 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 kali lipat dalam 0,000000000000001 detik. Ibarat koin dengan garis tengah 1 sentimeter mendadak membesar jadi selebar sepuluh juta kali lebar galaksi Bima Sakti.” (Hal. 139)

 

Kalimat soal Zimbabwe di atas itulah yang saya maksud humoris. Ada beberapa perumpamaan yang memang nggak sampe bikin ngakak sih, tapi cukup lah melonggarkan kerutan dahi ketika baca buku ini. Mau contoh lain?

 

“Malah, jika eksentrisitas orbit Bumi mendekati satu, samudra kita bakal mendidih ketika mencapai titik terdekat ke Matahari, dan membeku ketika mencapai titik terjauh, sehingga libur musim dingin maupun musim panas sama merananya.” (Hal. 159)

 

Kutipan di atas sekaligus menjawab pertanyaan kedua. Bahwa alasan eksistensi kita di alam semesta, karena kebetulan. Posisi planet tempat kita hidup, berada tepat di area yang memungkinkan munculnya kehidupan—namanya Zona Goldilocks. Apakah itu karena Tuhan mengatur demikian?

 

Duet penulis Hawking-Mlodinow menjawab tidak. Sebuah percobaan disitir sebagai sebuah analogi bahwa “set hukum yang sederhana pun bisa menghasilkan ciri-ciri rumit yang menyerupai kehidupan cerdas.”

 

“Contoh yang bisa membantu kita memikirkan perkara realitas dan penciptaan adalah Game of Life, yang dibuat pada 1970 oleh seorang ahli matematika muda di Cambridge bernama John Conway.” (Hal. 183)

 

Buku ini disusun dalam delapan bab. Dalam bab pamungkas berjudul Rancang Agung, penulis menyimpulkan dengan sesekali mengingatkan pembaca bahwa beberapa bahasan sudah disampaikan di bab sebelumnya. Di bagian ini pula, mereka menutup dengan paparan tentang Teori-M.

 

“Berdasarkan alasan-alasan itu, teori-M adalah satu-satunya kandidat teori alam semesta yang lengkap. Jika teori-M terhingga—dan ini belum dibuktikan—maka teori tersebut akan menjadi model alam semesta yang menciptakan dirinya sendiri.” (Hal. 193) []

No comments:

Post a Comment