Monday, May 11, 2020

Banksy

Nama Banksy dikenal luhur sebagai seorang street artist. Karyanya bukan hanya ada di Inggris, tapi juga tersebar di berbagai tempat dan wujud. Kerjaan terbarunya, berupa lukisan di atas kanvas yang mengejutkan para petugas medis di Inggris. Sebelum itu, Banksy yang misterius pernah menggelar pameran Dismaland, muncul di film Exit Through The Gift Shop, hingga berkolaborasi dengan sutradara Danny Boyle.

Di tahun 2005, Banksy menulis sebuah buku. Kita bisa baca versi digitalnya. Bebas. Katanya: Copyright is for losers. Judul buku ini: Wall and Piece.

Di dalam lebih dari 200 halaman buku ini, ada beberapa foto dan teks singkat tentang objek yang jadi medium Banksy menyampaikan pesan. Ada monyet, polisi, tikus, sampai instalasi jalanan (street furniture).

Bagi Banksy, graffiti bukan wujud seni paling rendah. Menurutnya, justru dalam graffiti ada pesan antielitisme. Secara sinis dia menulis:
“The people who run our cities don’t understand graffiti because they think nothing has the right to exist unless it makes a profit.”
Graffiti yang dimaksud Banksy, berarti gambar yang dibuat di tembok. Tekniknya bisa macam-macam. Salah satunya stencil. Caranya, cat semprot ditembakkan ke cetakan yang kemudian membentuk wujud gambar tadi.

Ada sebuah pengakuan menarik yang ditulis Banksy. Katanya, dia menggambar stencil tikus (rat) sudah selama tiga tahun terakhir. Lalu ada seseorang yang berkomentar bahwa rat sebenarnya anagram dari art. Banksy sendiri sebenarnya tidak bermaksud demikian, tapi dia pada akhirnya pura-pura berniat begitu.

Kisah lain juga ditulis Banksy, dalam perspektif personal. Dia bercerita tentang hukuman yang dijalaninya ketika berusia 9 tahun karena dituduh melukai seorang teman. Padahal temannya yang jatuh dan luka parah di kepala, limbung sendiri setelah berputar-putar dengan teman lainnya, bukan Banksy. Sedihnya, ibu Banksy justru malah ikut mengamini hukuman yang dia terima.

Banksy juga pernah hampir mati. Ceritanya ketika Israel membangun tembok raksasa untuk membatasi wilayah jajahan mereka di Palestina. Bagi para artis graffiti, tembok raksasa itu tempat liburan menyenangkan.

Suatu ketika pemandunya di sana bilang bahwa Banksy akan aman melukis di tembok dekat pos pengamanan. Setelah 25 menit menggambar dan kembali ke mobil, si pemandu tertawa. Katanya tentu saja di pos pemantauan ada penjaga. Bahkan di sana ada sniper.

Meski juga terkesan sebagai tukang protes, saya menangkap imaji bahwa yang dilakukan Banksy sebenarnya ekspresi kecintaannya terhadap seni. Dia mau, tembok dan jalanan jadi semacam galeri yang mengajak siapa pun untuk ikut bergabung. Katanya:
“Painting something that defies the law of the land is good. Painting something that defies the law of the land and the law of gravity at the time is ideal.” []

No comments:

Post a Comment